Di Pasaran IR 64 Premium Dijual Rp 14.500 Per Kilogram
KOTA - Harga jual beras di pasaran masih dikeluhkan masyarakat lantaran penjualannya belum menunjukkan kondisi membaik. Khususnya untuk jenis beras IR 64 kualitas premium yang biasa dikonsumsi masyarakat. Meski demikian, Perum Bulog mengklaim program pengendalian harga melalui beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), nilai jual kebutuhan pokok tersebut telah menunjukkan angka stabil.
Fauzi, pedagang beras di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, menuturkan, saat ini harga beras jenis IR 64 premium memang masih dijual di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 14.500 per kilogram (kg). Sedangkan untuk jenis bramu sekarang masih di kisaran Rp 16.500 hingga Rp 17.000 per kg. Hal itu lantaran dipicu oleh pembelian harga beras di tingkat penyuplai atau penyelepan gabah kering menjadi beras. ’’Kalau dari penyelepan harganya Rp 13.000 hingga 13.500 per kilogram,’’ tuturnya.
Tingginya harga jual pembelian beras ini sudah berlangsung selama satu bulan lebih. Di mana, para pedagang beras di pasar tradisional terbesar di Kota Mojokerto tersebut masih harus dihadapkan dengan biaya operasional, transportasi, dan harga gabah di tingkat petani pasca panen. ’’Untuk jenis beras IR 64 medium sekarang dijual Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per kg. Karena di tingkat selep penjualan sudah mencapai Rp 11.500 per kg,’’ imbuhnya.
Dia menuturkan, belum stabilnya harga jual beras ini memang diketahui dari tingkat petani. Di mana, para petani belakangan diketahui menjual harga gabah mereka pascapanen dengan nilai yang tinggi. Yakni, Rp 6.000 ribu per kg untuk jenis gabah basah, dari sebelumnya Rp 5.000 per kg. ’’Tentunya, masyarakat, khususnya konsumen dan pedagang sekarang masih mengeluh. Kenapa kok beras masih mahal,’’ imbuhnya.
Selain menjual beras yang biasa disuplai dari kawasan Jombang, Lamongan, Pare, dan Mojokerto sendiri, belakangan pedagang juga menjual beras SPHP. Oleh pedagang, beras kemasan 5 kilogram tersebut dijual dengan harga Rp 12.000 per kilogram atau setara dengan Rp 60.000 per kemasan. ’’Cuma dapat untung Rp 4.000 per kemasan, itu pun untuk mendukung operasional penjualan,’’ imbuh IM, pedagang lainnya.
IM menambahkan, keberadaan beras SPHP di pasaran ini memang memberikan angin segar. Di antaranya dinilai cenderung dapat menekan harga jual beras jenis IR 64 premium yang pernah menembus hingga Rp 15.000 sampai Rp 16.000 ribu per kg. ’’Cuma dengan SPHP, harga beras belum turun sepenuhnya, sekadar bisa meredam saja. Tapi, sudah bisa dibilang stabil,’’ paparnya.
Sementara itu, Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Mojokerto Muhammad Husin mengklaim, dengan program stabiliasi harga melalui penjualan SPHP, kini tren harga beras menunjukkan angka stabil. Di kisaran Rp 12.500 per kilogram. ’’Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) setelah kami gelontor program SPHP, hasilnya cukup bagus, sudah bisa menekan harga, mulai stabil di pasaran,’’ ungkapnya.
Dia menyebutkan, stabilisasi harga oleh pemerintah melalui Bulog sejauh ini sudah dilakukan dengan matang. Dalam sehari, lanjut dia, Bulog telah menyiapkan 30 hingga 50 ton beras SPHP. Pendistribusiannya bekerja sama dengan pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI. ’’Dan di setiap penjualan itu habis,’’ lontarnya.
Disinggung terkait ada pedagang yang memperjualbelikan kembali SPHP, Husin menegaskan, hal itu tetap diperboleh. Asalkan, lanjut dia, harga penjualan kepada konsumen tidak lebih dari Rp 12.500 per kilogram. ’’Kalau pedagang masih boleh, asal tidak melebihi ketentuan,’’ tukasnya. (ris/fen)
Editor : Hendra Junaedi