KABUPATEN - Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dalam kenaikan Indeks Fluktuasi Harga (IFH) di Kabupaten Mojokerto. Peningkatan harga ini diduga akibat kekhawatiran masyarakat terhadap potensi pelemahan nilai tukar rupiah.
Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, mengatakan sejumlah komoditas menjadi penyumbang kenaikan IFH. Salah satunya emas perhiasan yang mengalami kenaikan harga rata-rata selama periode Mei 2025. ’’Komoditas penyumbang kenaikan Indeks Fluktuasi Harga tertinggi di Kabupaten Mojokerto pada Mei 2025 adalah emas perhiasan,’’ ungkapnya.
Pemicu kenaikan IFH juga dipengaruhi oleh sejumlah kenaikan komoditas. Di antaranya, kelapa, tahu mentah, beras, tomat sayur, lipstik, tempe, buncis, tauge atau kecambah, dan kentang. Bambang mengungkapkan harga yang merangkak naik belakangan turut diikuti meningkatnya jumlah permintaan dari konsumen. Hal itu dipicu akibat kekhawatiran masyarakat terhadap potensi pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga emas dipilih sebagai aset lindung nilai untuk menjaga daya beli. ’’Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan naiknya harga emas di pasar global akibat ketegangan geopolitik juga turut mempengaruhi. Termasuk, ketidakpastian ekonomi turut memperkuat tren kenaikan harga emas di pasar domestik,’’ paparnya.
Meski begitu, Bambang mengungkapkan IFH di bumi Majapahit tercatat mengalami penurunan di angka minus 0,41 persen pada periode Mei 2025. Data statistik IFH ini merujuk dari pengamatan sebanyak 357 komoditas yang dibagi menjadi 11 kelompok dan 39 subkelompok komoditas selama satu bulan penuh di wilayah Kabupaten Mojokerto. ’’Komoditas utama yang memicu penurunan harga di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, bawang putih, bawang merah, telur ayam ras, wortel, jeruk, bensin, dan solar. Ini menunjukkan penurunan harga komoditas secara umum,’’ jelas Bambang.
Sesuai data statistik, penurunan IFH dipengaruhi turunnya harga cabai rawit akibat melimpahnya pasokan di pasar. Terlebih, adanya peningkatan pasokan seiring panen raya di sejumlah daerah sentra produksi cabai di Jawa Timur yang meliputi Kediri, Blitar, dan Malang. ’’Sesuai hukum pasar, kondisi ini menyebabkan harga cabai rawit turun secara signifikan di tingkat pedagang maupun konsumen. Sehingga memicu penurunan IFH di Kabupaten Mojokerto,’’ bebernya. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi