Masyarakat Masih Nyaman Bayar secara Tunai
KOTA – Sistem parkir digital tampaknya belum bisa diterapkan secara luas di Kota Mojokerto. Uji coba penggunaan QRIS untuk membayar parkir di kawasan Alun-Alun Wirajaja empat bulan terakhir tak diminati masyarakat. Pengunjung cenderung lebih nyaman membayar biaya parkir secara tunai.
Hal ini diungkapkan Kabid Pengendalian Operasi dan Perparkiran Dishub Kota Mojokerto Henry Prasetyo, kemarin (10/4). Setelah diterapkan sejak 9 Desember 2024 lalu, pembayaran parkir lewat QRIS di alun-alun tak berjalan optimal. ”Masih berlaku, tapi tidak optimal,” katanya, kemarin.
Menurut Henry, tak banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan digital itu. Pengunjung masih senang membayar biaya parkir secara langsung ke juru pakir di lokasi. ”Masyarakat cenderung bayar retribusi secara tunai,” imbuh dia.
Tarif parkir di area jantung kota itu dipatok Rp 3 ribu untuk roda dua dan Rp 5 ribu bagi roda empat. Penerapan sistem parkir digital rencananya akan diperluas setelah uji coba di kawasan alun-alun berhasil.
Seluruh kantong parkir, baik area berlangganan maupun tidak nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas pembayaran nontunai. Sistem ini diharapkan dapat menekan potensi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi parkir, karena uang yang dibayar pelanggan langsung masuk ke rekening pemkot.
Selain itu, transaksi secara online juga semakin memudahkan pelanggan karena cukup men-scan QR code. Namun, karena masyarakat tampaknya belum tertarik, uji coba parkir digital ini bakal dievaluasi lebih dahulu sebelum diterapkan secara luas.
Di sisi lain, dishub merasa kemampuan juru pakir dan perangkat penunjang perlu ditingkatkan. ”Kami coba evaluasi dulu, mau kami siapkan SDM-nya juga perangkat penunjang lainnya,” jelas Henry. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi