KABUPATEN - Kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kabupaten Mojokerto di awal tahun 2025. Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyebutkan, dari 11 kota/kab IHK di Jawa Timur mengalami deflasi, di sisi lain Kabupaten Mojokerto menjadi satu-satunya daerah yang mencatat inflasi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, menjelaskan, inflasi di Kabupaten Mojokerto justru terjadi di saat daerah kota/kabupaten Jawa Timur, provinsi hingga nasional mengalami deflasi. ’’Kabupaten Mojokerto menjadi daerah satu-satunya mencatat inflasi sebesar 0,27 persen. Berbanding terbalik nasional, provinsi, kab/kota IHK lainnya di Jawa Timur, seluruhnya mengalami deflasi pada Januari 2025,’’ ungkapnya.
Menurutnya, hasil kajian sesuai data di lapangan bahwa kenaikan inflasi di bumi Majapahit periode Januari dipengaruhi melonjaknya harga cabai rawit. Hal itu diakibatkan cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir di beberapa area pertanaman. Termasuk dampak angin kencang dan serangan hama. ’’Faktor itu mengakibatkan produksi maupun pasokan dari petani mengalami penurunan, sehingga harga naik yang dampaknya memicu inflasi di Kabupaten Mojokerto,’’ bebernya.
Laju inflasi turut diimbangi dengan adanya deflasi dari berbagai komoditas. Bambang mengaku, penyumbang deflasi terbesar di Kabupaten Mojokerto pada awal tahun ini ada pada daging ayam ras yang mengalami penurunan harga. Hal itu dipicu produksi daging ayam yang tinggi, namun tidak diimbangi oleh permintaan pasar yang sebanding. ’’Sehingga terjadi surplus pasokan yang menekan harga turun,’’ tegasnya.
Sementara laju inflasi tahun kalender (kumulatif) Kabupaten Mojokerto, Januari 2025 mencapai 0,27 persen. ’’Sedangkan laju inflasi tahun ke tahun (YoY), untuk periode Januari 2024 hingga Januari 2025 di Kabupaten Mojokerto sebesar 1,98 persen,’’ pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi