Salah satunya dirasakan usaha mukena di Perumahan BSP Regency, Jalan April Nomor C1, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Perajin UMKM itu mengalami penurunan hingga 50 persen. Bahkan menjelang lebaran, penjualan jauh dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.
Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan sebagian orang lebih memilih memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan lainnya.
Hal itu dikeluhkan Owner Mukena Lucy, Louis Inggrid, yang mengaku mengalami penurunan omzet penjualan. Padahal, momentum lebaran 2024 hanya tersisa beberapa hari lagi.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, Rabu (3/4/2024), terlihat usaha Mukena Lucy sepi pembeli. Penjualan tersebut diakui Louis karena telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
"Awal puasa masih sepi, kemudian berjalan minggu kedua dan ketiga alhamdulillah mulai ramai. Kalau menjelang lebaran ini turun 50 persen dari tahun kemarin," ungkapnya.
Menurut Louis, menurunnya omzet penjualan mukena miliknya disebabkan beberapa faktor, salah satunya dampak ekonomi yang sulit.
Sehingga penjualan alat salat seperti mukena mulai sepi pembeli. Padahal, mukena yang dijual juga kekinian dan memiliki berbagai model modern.
"Sepertinya semua toko mukena juga menurun. Saya pernah tanya ke teman yang juga jual mukena, katanya lagi sepi pembeli," jelas perempuan 43 tahun itu.
Mukena yang ada di toko Louis dibanderol mulai dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu per piece.
Dia menambahkan, selain toko offline, pemasaran produknya juga dilakukan di media online, seperti Shopee dan TikTok.
Ada juga grup WhatApp untuk reseller. "Pernah kirim paling jauh sampai ke Sulawesi, itu pemesanan dari Shopee," ujar Louis.
Dari penurunan omzet yang dialaminya, Louis menganggap itu hal yang biasa karena rejeki bisa naik dan turun. Tetapi, dia juga tetap mencari solusi agar tokonya tetap ramai pembeli.
"Solusinya cukup tetap mempertahankan kualitas bahan mukena dan menyediakan mukena yang tren setiap tahunnya," pungkasnya. (Nailul Mufarichah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah