Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pasca Pandemi, Penjual Bambu di Kota Mojokerto Mengeluh Sepi Pembeli

Fendy Hermansyah • Selasa, 20 Februari 2024 | 21:25 WIB

LESU: Lokasi penjualan bambu di Jalan Residen Ramuji Kota Mojokerto.
LESU: Lokasi penjualan bambu di Jalan Residen Ramuji Kota Mojokerto.
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto - Bahan bambu sekarang jarang diminati masyarakat, tepatnya setelah pandemi. Demikian dikatakan Nawawi, 53, penjual bambu di Jalan Residen Pamuji, Kota Mojokerto.

Pria asal Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, ini mengaku, sudah menggeluti usaha kerajinan bambu ini selama 30 tahun. Dia memulai usaha pembuatan bambu ini sejak SMA karena merasa memiliki bakat di bidang kerajinan bambu ini.

Usahanya ini terletak di Jalan Residen Pamuji, tepat di seberang Masjid besar Al-Qodiry.

Dia mengatakan, biasanya pesanan ramai ketika menjelang lebaran. Tetapi karena banyaknya saingan dan setelah pandemi Covid-19 ini, peminat produk bambu ini berkurang.

Nawawi mengungkapkan, setelah pandemi Covid-19 ini dia mengalami penurunan jumlah pelanggan yang berakibat penurunan omzet penjualan.

’’Omzet penjualannya ndak mesti. Mulai ada corona, kan, sepi dan penjualan turun drastis 20 persen. Sebelumnya kan ramai, sekarang sudah turun drastis. Hitung-hitung buat makan saja sudah alhamdulillah,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan, faktor penurunan penjualan ini karena permintaan bambu untuk membangun atau memakai peralatan dari bambu.

Apalagi sekarang, ada besi baja ringan yang menawarkan harga lebih murah dari bambu.

’’Untuk sekarang peralatan bambu sudah jarang diminati. Juga, ada persaingan dengan besi baja ringan itu loh, lebih murah. Jadi agak susah penjualan bambu itu. Penghasilan juga menurun,’’ jelasnya.

Nawawi juga menyampaikan keluh kesahnya sebagai pedagang kecil, dengan modal yang kecil karena sepinya pelanggan.

Tetapi tetap menjalankan usahanya walaupun mengalami penurunan setelah adanya pandemi Covid-19.

’’Keuangan berkurang karena pembeli sepi. Pedagang sekarang lagi susah semua, malah bersaing dengan orang yang punya uang. Sekarang banyak orang pengangguran,’’ keluhnya. (Firza Aulia Ningrum/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#Penjual #mojokerto #bambu