RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Mengubah hobi menjadi peluang bisnis yang menguntungkan kini menjadi tren. Seperti yang dilakoni Muhammad Hadi Yatulloh, warga Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Pria 34 tahun ini, merintis bisnis terpal bersama istrinya, Siti Maria Ulfa. Dia sukses bisnis terpal. Meski awalnya hanya dijadikan sampingan, kini usahanya digandrungi pasar Nasional hingga Internasional.
Berawal dari kegemaran memelihara ikan, Hadi lantas berinisiatif mengembangkan hobinya. Dibantu 20 karyawan, mulai dari tim produksi, admin, hingga driver. ”Rata-rata yang kerja di sini dari tetangga sekitar, sekaligus untuk memberdayakan masyarakat,” katanya, Sabtu (6/1).
Bisnis yang sudah ia geluti sejak 2015 silam itu, kini mampu menjual berbagai macam terpal. Di antaranya tutup bak pikap, keramba ikan, hingga kolam ikan. Hadi menjelaskan, ada dua jenis bahan terpal yang digunakan. Masing-masing jenis terpal jenis PVC atau karet, dan PE atau plastik. ”Tetapi yang best seller itu kolam ikan,” ungkapnya.
Bapak dua anak ini mengungkapkan, selama ini dia memasarkan hasil usahanya melalui online. Produk yang paling digemari pelanggan adalah kolam ikan. Ia menambahkan, banyak pelanggan yang pesan dari usia 25 tahun ke atas untuk memulai bisnis perikanan. Baik perorangan maupun kelompok. ”Rata-rata yang pesan itu untuk pemula budidaya ikan,” jelasnya.
Harga kolam terpal yang ditawarkan beragam. Kolam terpal orchid tarpaulin bulat dibanderol Rp 109 ribu hingga Rp 2,2 juta, dan terpal kotak Rp 104 ribu hingga Rp 1,1 juta. Sedangkan untuk kolam merek OX tarpaulin bulat, dari Rp 103 ribu hingga Rp 2,1 juta.
Serta bentuk terpal kotak dihargai Rp 97 ribu hingga 1 juta lebih. Harga yang dibanderol untuk keramba ikan setinggi 50 cm mulai Rp 16 ribu hingga Rp 143 ribu. Untuk ketinggian 1 meter, mulai dari Rp 29 ribu hingga Rp 208 ribu.
Pelanggan yang memesan datang dari berbagai daerah. Mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Untuk daerah lokal seperti, Mojokerto, Jombang, dan Jember. Bahkan, tembus pasar Sumatera, Papua hingga pasar Malaysia. ”Permintaan ekspor banyak, tetapi terkendala biaya pengiriman,” ujarnya.
Dalam satu bulan Hadi mampu mengantongi omzet dari Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan. ”Kalau harga bahan baku naik juga membuat cost produksi naik,” pungkasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris