RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Mujiono, 50, warga asal Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, masih eksis memanfaatkan kayu sebagai sumber penghasilan keluarga.
Bapak lima anak ini memulai usahanya sejak 20 tahun lalu. Bisnis kerajinan yang digelutinya adalah klebut atau cetakan sepatu. Padahal, proses pengerjaan klebut tidaklah mudah. Bahkan, keberadaannya kini mulai jarang ditemui di Mojokerto.
Namun, berkat ketekunan dan keuletannya, Mujiono justru mampu membuka lapangan kerja. "Ada lapangan kerja juga. Di Kediri ada dua pekerja, dan di sini (rumah) dua orang," ungkapnya, Jumat (5/1).
Awalnya, Mujiono terinspirasi dari teman sesama perajin klebut di Malang. Dari situ dia pun tertarik untuk membuka usaha sendiri. Dia menceritakan, proses pengerjaan memakan waktu 1 jam untuk sepasang klebut. Dari mulai menyiapkan bahan balok kayu, mempola, memahat, hingga tahap finishing.
”Harga setiap klebut berbeda-beda. Untuk klebut sepatu perempuan Rp 60 ribu (satu pasang), sedangkan klebut sepatu pria Rp 65 ribu satu pasangnya,” tandasnya.
Alat yang dibutuhkan untuk membuat klebut ini di antaranya banci, autos, dinamo dan semacam karton. Dari hasil karyanya itu, Mujiono berhasil meraih omzet antara Rp 200 hingga Rp 500 ribu per minggu.
Dalam menjalankan usahanya dia mengaku kerap menemui kendala, bahkan hampir menyerah. Seperti pesanan yang sudah jadai, namun tidak diambil pesanan. Serta mahalnya harga bahan baku kayu jenis petai maupun jenis lainnya.
”Klebut jadi namun tidak diambil pemesan, biasanya saya rombak kembali dijadikan ukuran dan bentuk beda. Daripada nanti menanggung kerugian," paparnya. (afi azizah)
Editor : Moch. Chariris