RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Berawal dari melihat lahan kosong miliknya yang tak produktif, Khodiq akhirnya memutuskan menghabiskan waktu luangnya dengan budidaya pohon belimbing.
Pria asal Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini, memutuskan menanam dua jenis pohon belimbing. Di antaranya belimbing madu dan Bangkok.
Kini, lahan seluas 2 ribu meter persegi miliknya telah berjajar pepohonan belimbing. Khodiq menjelaskan, sekarang di kebunnya ada sekitar 50 pohon dan telah berbuah berkali-kali. Dari dua jenis yang ditanam itu, yang paling laku di pasaran adalah belimbing madu.
Khodiq tidak butuh waktu lama untuk membudidayakan pohon belimbing. Hanya dalam kurun waktu dua bulan, pohon yang ditanam sudah berbunga hingga siap panen. ”Dua bulan sekali biasanya sudah bisa panen,” jelasnya.
Perawatan yang mudah menjadi salah satu alasan Khodiq memilih budidaya belimbing. Cukup dengan menjaga kadar air dalam tanah, dan rutin memberi pupuk agar pohon menghasilkan buah yang memuaskan. ”Kalau mau berbuah lebat harus rutin memberi pupuk. Tambah bagus kalau dicampur pupuk kandang,” ujarnya.
Hasil panen buah belimbing milik Khodiq ini dapat dipetik langsung para pembeli dari lokasi. Setelah dipetik, belimbing kemudian ditimbang. Per 1 kilogramnya dihargai Rp 10 ribu.
Selama ini, dia memasarkan bisnis agrowisata yang dikelola melalui media konvensional dan digital. Dia mendaftarkan usahanya di google business dan mempromosikan hasil panen melalui sosial media. Khodiq mengaku beberapa pelanggan yang datang ke kebunnya kebanyakan dari luar kota. Meliputi, Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan.
Pria 53 tahun ini mengungkapkan, kendala yang dialami selama 3 tahun merawat kebun belimbing adalah serangan lalat buah. Serta kesulitan dalam memasarkan hasil panen. Serangan lalat buah, lanjut dia, tidak dapat dihindari meski telah menggunakan segala cara. Sehingga Khodiq harus extra menjaga buah dengan membungkus plastik.
”Kalau terlambat bungkus buah yang masih muda, pasti nanti diserang lalat. Jadi buahnya tidak bisa berkembang,” terangnya. Dalam sekali panen, Khodiq dapat memetik sekitar 5 kuintal buah. Dari situ dia mampu meraup omzet Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta. ”Hasilnya lumayan, kalau bisa telaten merawat buahnya,” ungkapnya.
Namun, Khodiq mengeluhkan selama beberapa bulan terakhir ini, kebunnya mengalami gagal panen akibat cuaca ekstrem. Hasil buah kurang maksimal, bahkan tidak layak dijual. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris