Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Beras Medium Langka di Pasaran Kota Mojokerto, Pedagang Hanya Andalkan Bulog

Rizal Amrulloh • Jumat, 6 Oktober 2023 | 14:25 WIB

SISAKAN PREMIUM: Warga membeli beras di salah satu pedagang di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin.
SISAKAN PREMIUM: Warga membeli beras di salah satu pedagang di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin.
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Beras kualitas medium di Kota Mojokerto mengalami kelangkaan di pasaran. Kini, para pedagang hanya mengandalkan dropping dari bulog karena tak lagi dapat pasokan barang.

Dwi Yuni, salah satu pedagang beras di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto mengungkapkan, tersendatnya distribusi beras medium terjadi sekitar beberapa bulan terakhir.

Tepatnya saat dimasifkannya program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) beras dari bulog ke pasaran. ”Setelah ada SPHP itu, sekitar bulan tujuh (Juli) beras medium sudah mulai tidak ada,” terangnya, Kamis (5/10).

Hingga saat ini, dirinya mengaku masih kesulitan untuk mencari beras medium. Baik dari penggilingan maupun distributor.

Karena stok yang tersedia hanya beras dengan kualitas premium. ”Akhirnya orang-orang juga jarang kulakan dari selep (penggilingan, Red),” tandasnya.

Praktis, Dwi hanya mengandalkan dropping dari Kantor Cabang Bulog Surabaya Selatan dari beras SPHP. Itu pun kuotanya dinilai masih terbatas. K

arena jatah beras yang dijual dengan harga Rp 54.500 per kemasan 5 kilogram (kg) atau setara Rp 10.900 per kg ini hanya 2 kuintal per pengiriman.

”Pengirimannya tidak tiap hari juga. Misalnya kemarin sore datang, besok atau lusa baru diedarkan lagi,” paparnya.

Padahal, imbuh dia, beras medium dari bulog tersebut kini banyak diburu oleh pembeli karena harga lebih murah dibanding beras jenis lain yang kualitasnya setara.

”Beras medium selain SPHP akhirnya tidak seberapa laku,” ulasnya.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Diskopukmperindag Kota Mojokerto Heri Setiyawan mengungkapkan, stok beras medium non-bulog di pasaran saat ini kondisinya memang sudah langka.

Bahkan, berdasarkan dari sidak tim gabungan di Pasar Tanjung Anyar mengalami kekosongan persediaan.

”Kemarin kami cek bersama dengan bulog, DKPP, dan bagian perekonomian, tidak ditemukan beras dengan kualitas medium. Jadi, yang ada di Pasar Tanjung semuanya masuk kategori beras premium,” tandas dia.

Menurutnya, saat ini yang dijual para pedagang hanya beras dengan kualitas premium.

Hal itu berdasarkan dari survei bahwa butir patahan beras yang rata-rata tidak lebih dari 15 persen.

”Jadi, posisi sekarang beras premium stoknya insyaallah cukup. Tetapi kalau beras medium, stoknya baru dipasok dari SPHP bulog,” tandasnya.

Heri mengungkapkan, kekosongan beras medium disebabkan karena di tingkat penggilingan tidak mendapatkan pasokan gabah kualitas medium.

”Kemarin kami cek juga di salah satu penggilingan, produksinya lebih ke beras premium. Jadi, yang disalurkan tidak ada yang beras medium,” urainya.

Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, saat ini diskopukmperindag melakukan pasar murah yang disebar merata di 18 kelurahan.

Masing-masing kelurahan dijatah 2 ton beras SPHP yang dijual lebih terjangkau dengan Rp 10.200 per kg atau Rp 51 ribu per kemasan 5 kg yang dilaksanakan mulai 3-17 Oktober. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#langka #medium #kota #premium #mojokerto #beras