Selain banyak yang gulung tikar, tak sedikit juga yang terpaksa turunkan produksi hingga 60 persen untuk bertahan menjaga dapur tetap ngepul.
Seperti yang dialami Joko Purnowo, pengusaha kecil asal Centong, Kecamatan Gondang.
Belakangan dia mengaku terpaksa turunkan produksi penggilingan padi akibat kalah bersaing dengan pemodal besar yang ada di bumi Majapahit.
’’Kalau kita tidak ikut harga pabrik, kita tidak dapat gabah,’’ ungkapnya.
Joko menegaskan, sejak tahun lalu, para penggilingan padi sudah dihadapkan dengan persaingan dengan perusahaan besar.
Tak urung kondisi itu sangat berdampak pada keberlanjutan para UMKM tersebut.
Itu setelah perusahaan mulai turun membeli gabah ke pelosok-pelosok desa.
’’Istilah sepak bola kita cuma bisa bertahan tidak bisa menyerang. Yang jelas profit berkurang banyak,’’ tegasnya.
Benar saja, sekarang ini Joko hanya mampu melakukan produksi tak lebih dari 20 ton per minggu.
Padahal, sebelumnya mampu produksi capai 60 ton. Persaingan yang cukup ketat dan tak seimbang dalam pembelian gabah panen kering ke petani membuat para pelaku usaha penggilingan kembang kempis.
’’Sekarang seminggu hanya bisa produksi sekitar 10 sampai 20 ton, kalau dulu kita bisa 50 sampai 60 ton. Jadi ada penurunan produksi sampai 50 persen lebih,’’ jelasnya.
Atas kondisi ini, para penggilingan padi mendorong pemerintah gerak cepat dengan membatasi pembelian monopoli gabah yang dilakukan perusahaan.
Sebab, dengan harga yang liar seperti ini hanya sebagian kecil penggilingan bisa bertahan.
’’Banyak sekali penggilingan tutup, kalau penggilingan banyak yang tutup otomatis harga beras akan naik dan tidak terkendali,’’ tuturnya.
Harapannya juga pemerintah menerapkan kebijakan yang bisa menguntungkan perusahaan menengah ke bawah. Pasalnya, jika disuruh head to head lama kelamaan juga pasti jebol juga.
’’Kebijakan pemerintah bisa dengan menerapkan untuk pabrik yang menjual beras premium, kita yang kecil-kecil medium, jadi tidak saling head to head, kalau pabrik rugi Rp 1 miliar kayak buang air, kalau kita Rp 1 juta Rp 2 juta kapok,’’ paparnya.
Berbanding lurus dengan Eko, warga Pacet ini belakangan tak lagi menurunkan produksinya, melainkan pilih gulung tikar lantaran tak mampu bersaing dengan pemodal besar.
’’Yang saya rasakan, pemodal kecil, sudah tidak bisa kerja dari tahun ini. Untuk sementara penggilingan tidak bisa produksi lagi,’’ ungkapnya.
Menurutnya, harga pembelian yang cukup tinggi dilakukan perusahaan membuat dirinya kelimpungan.
Sehingga kondisi itu berakibat pada berhentinya penggilingannya. Sementara disisi lain, dapur harus tetap ngepul.
’’Tidak tahu sampai kapan kita bisa bertahan seperti ini. Kerja tidak ada upah, akhirnya kita ambil luar kota, tapi saat waktu panen raya, kalau sekarang stok kosong,’’ jelasnya.
Sekdakab Mojokerto teguh gunarko, menegaskan, bakal mencarikan solusi atas para penggilingan yang terdampak.
Pemda pun bakal mempelajari terkait persoalan tersebut.
’’Saya berharap penggilingan padi kecil-kecil tetap tumbuh sehingga menjadi lumbung padi yang tersebar di pelosok-pelosok. Ini juga bisa menjaga harga agar tidak naik tinggi,’’ ungkapnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah