Hanya dengan bermodal uang pecahan, seorang penyedia jasa penukaran uang pecahan sudah bisa beroperasi. Seperti Angel, yang sudah lima tahun menjadi penyedia jasa penukaran uang pecahan. Bersama anaknya, Angel menunggu para penukar di pinggir jalan. Biasanya, dia menukar uang pecahan sejumlah Rp100 ribu dengan biaya jasa sebesar Rp10 ribu. ’’Biaya jasanya Rp 10 ribu, jadi kalau misalkan mau nukar Rp 100 ribu, bayar ke saya Rp 110 ribu,’’ jelasnya.
Ibu satu anak ini mengaku, pekerjaannya juga dapat membantu masyarakat yang hendak menukar uang, tanpa harus antre di bank. Saat ini masih sedikit yang mau menukarkan uang kepadanya, diperkirakan akan ramai ketika mendekati Lebaran. ’’Biasanya sih H-7 Lebaran gitu baru ramai-ramainya. Pokoknya THR cair langsung ramai besoknya,’’ ulas dia.
Pelaku jasa penukaran uang lainnya, Antok, warga Kecamatan Sooko ini mengaku sudah hampir delapan tahun menekuni profesi musiman sebagai penyedia jasa penukaran uang baru. Jalan Ahmad Yani dipilih karena dinilai strategis dan dilalui pemudik. Setiap hari ia mulai mangkal dari pukul 07.00 hingga pukul 20.00 malam. ’’Di sini lebih strategis setiap tahunnya. Cuma sepi pas pandemi kemarin. Dua tahun ini sudah mulai ramai, banyak yang plat luar kota juga biasa tukar uang kalau lewat sini,’’ ungkapnya.
Tidak dipungkiri lagi, lanjutnya, jelang seminggu sebelum Lebaran, biasanya banyak warga yang menukarkan uang. Dalam satu hari, bisa mencapai puluhan orang menukarkan uangnya di tempat penukaran uang musiman tersebut. ’’Kalau masih tengah-tengah gini, sepi. Kadang sehari cuma satu dua malah kadang tidak ada penukar sama sekali,’’ tandas dia. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah