JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kita tentu setuju, kerendahan hati (tawadhu) adalah sikap yang baik.
Orang thawadu biasanya menghiasi karakter mereka dengan kesopanan yang rendah hati. Tawadhu sendiri adalah peniadaan kesombongan.
Namun, dua hal yang berlawanan terkadang bisa sangat dekat dengan titik dimana keduanya sulit dipisahkan.
Terkadang perilaku yang kita sangka sebagai kerendahan hati justru sebenarnya adalah kesombongan yang tidak disadari. Gus Baha menjelaskan hal itu dalam ceramahnya yang bertema terlihat tawadhu tapi sombong.
Tawadhu adalah sikap rendah hati yang seharusnya dimiliki oleh setiap individu. Dalam pandangan
Gus Baha, tawadhu bukan sekedar menampilkan sikap merendahkan di hadapan orang lain, tetapi juga mencakup penerimaan akan kekurangan diri dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.
Tawadhu mencerminkan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berbuat salah.
Sebaliknya, kesombongan adalah sikap yang menunjukkan keangkuhan dan merasa lebih baik daripada orang lain.
Seseorang yang memiliki sifat sombong cenderung menutup diri dari kritik dan merasa tidak perlu belajar atau mengakui kesalahan.
Dalam secaramhnya, Gus Baha mengingatkan bahwa kesombongan seringkali disertai dengan sikap ketidakmauan untuk menerima pandangan orang lain.
Gus Baha mencontohkan hal ini dengan kisah kaum Khawarij, yang dikenal terlihat sangat khusyuk dalam beribadah, tetapi sebenarnya memiliki pemahaman yang sempit dan tidak mau menerima perbedaan pendapat.
Mereka menganggap diri mereka sebagai satu-satunya yang benar dan mengabaikan sifat manusiawi dalam berinteraksi dengan orang lain.
Gus Baha menekankan pentingnya kesadaran diri dalam membedakan antara tawadhu yang sejati dan kesombongan yang terselubung.
Ia mendorong para pendengar untuk selalu intropeksi dan terbuka terhadap kritik serta masukan dari orang lain. Dengan cara ini, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik tanpa terjebak dalam ilusi kerendahan hati.
Ceramah Gus Baha tentang tema ini mengajak kita untuk memikirkan sikap kita sendiri dalam berinteraksi dengan orang lain.
Tawadhu yang sejati adalah menerima kekurangan diri, bersedia belajar dan tidak merasa lebih baik dari orang lain.
Sebaliknya, kesombongan dapat muncul dalam bentuk ketidakmauan untuk bertindak atau berbagi karena takut salah. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat berusaha menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan bijaksana. FIA
Editor : Imron Arlado