JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dana Bantuan Biaya Hidup Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menjadi sorotan publik terkait penyalahgunaannya. Sejumlah perguruan tinggi memberikan bantuan ditujukan pada mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, namun pada kenyataannya dimanfaatkan untuk membeli tiket konser dan memenuhi gaya hidup secara hedon.
Fenomena ini masih gencar dibicarakan sampai saat ini. Unggahan-unggahan media sosial saat nonton konser dan gaya mewah dari mahasiswa pendapat bantuan juga tidak redup. Hal ini yang memicu kritik dari publik atau bahkan kalangan mahasiswa sendiri.
Baca Juga: Jaringan Pengedar Narkoba di Mojokerto Manfaatkan E-Wallet Anonim
Dana bantuan yang tidak tepat sasaran ini terjadi karena adanya ketidakakuratan penentuan kelompok kesejahteraan pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) diakibatkan dari warga kurang mampu yang mendadak tercatat di desil tinggi sehingga bisa gugur secara administrasi. Kondisi semakin parah saat muncul minimnya sinkronisasi antara basis data ekonomi keluarga, data kependudukan Dukcapil, hingga Dapodik/sistem perguruan tinggi.
Akibat yang diterima dari tidak tepatnya sasaran adalah validasi di lapangan menjadi lemah, ketidakvalidan dokumen seperti NIK atau NISN tidak terdeteksi dan memberikan celah pada yang berhak menerima malah terabaikan maupun yang tidak berhak justru lolos.
Pihak pengelola KIP Kuliah pada tingkat perguruan tinggi harus dengan sigap memperketat mekanisme evaluasi berkala untuk meminimalisir penyalahgunaan penerima bantuan.
Evaluasi yang dilakukan mencakup pemantauan prestasi akademik (IPK), serta melihat ulang kondisi ekonomi keluarga setiap semester. Sehingga dapat mengembalikan fungsi utama program KIP Kuliah bagi mahasiswa atau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. (IRMA)
Editor : Imron Arlado