
Oleh: Dr H. M. Afif Zamroni, Lc, M.E.I
Staf Khusus Menteri Desa dan PDT
Ada satu kebiasaan yang tampaknya semakin sering kita lakukan tanpa disadari: terlalu cepat terbiasa.
KETIKA pertama kali diterima bekerja, kita begitu bahagia. Rasanya ingin mengabarkan kepada semua orang. Ketika akhirnya bisa membeli kendaraan pertama, kita menjaganya dengan penuh perhatian. Ketika doa tentang pasangan, rumah, atau anak dikabulkan Allah, kita merasa menjadi orang yang paling beruntung.
Namun, waktu berjalan cepat. Apa yang dulu kita perjuangkan mati-matian perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa. Pekerjaan yang dulu disyukuri kini sering dikeluhkan. Kendaraan yang dulu dibersihkan setiap akhir pekan kini dianggap sudah terlalu tua. Rumah yang dulu menjadi jawaban atas doa panjang, sekarang terasa sempit karena mulai membandingkannya dengan rumah orang lain.
Bukan karena nikmat itu berkurang. Kita hanya terlalu cepat terbiasa dengannya. Barangkali itulah mengapa Alquran berkali-kali mengingatkan manusia tentang syukur. Bukan karena Allah membutuhkan ucapan alhamdulillah dari hamba-Nya, tetapi karena manusia memang mudah lupa. Kita lebih mudah mengingat apa yang belum dimiliki daripada apa yang telah Allah titipkan.
Allah SWT, berfirman: ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini sering dipahami secara sederhana: bersyukur maka rezeki akan bertambah. Tidak salah. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada pertanyaan yang menarik. Mengapa Allah justru mengaitkan tambahan nikmat dengan syukur, bukan dengan kepandaian atau kekayaan?
Mungkin karena orang yang pandai belum tentu merasa cukup. Orang yang kaya pun belum tentu merasa memiliki. Sebaliknya, orang yang pandai bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk menikmati hidup, bahkan ketika keadaannya belum sempurna.
Menariknya, Alquran tidak berhenti di situ. Dalam surah yang lain Allah menggambarkan kecenderungan manusia dengan sangat jujur. ”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur: 1).
