JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu, 26 Agustus 2026 dibuka menguat tipis di pasar spot, namun sepanjang perdagangan terlihat fluktuasi yang cukup tajam. Rupiah sempat menyentuh level Rp17.689 per dolar AS sebelum kembali melemah di sesi siang.
Pergerakan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS masih berlanjut seiring data ekonomi Amerika yang solid. Indeks PMI Jasa AS tercatat 56,8, tertinggi sejak Desember 2024.
Harga minyak dunia justru turun, dengan Brent di USS86,2 per barel dan WTI di USS80,40 per barel. Penurunan harga energi sempat memberi ruang bagi rupiah untuk menguat di awal perdagangan.
Baca Juga: REDMI 17 Resmi Dijual di Indonesia: Harga Mulai Rp2.899.000, Baterai 7.500mAh dan Garansi 36 Bulan
Namun tekanan kembali muncul dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Sanksi ekonomi AS terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran pasokan energi global, sehingga investor cenderung memilih aset aman berupa dolar.
Dari dalam negeri, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar ke USS12,5 miliar atau 3,3% dari PDB pada kuartal II/2026. Kondisi ini menambah beban terhadap stabilitas rupiah di tengah arus keluar modal asing.
Pasar juga mencermati dinamika politik menjelang demo besar pada 27 Agustus 2026. Ketidakpastian sosial berpotensi menekan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Jumlah Korban Meninggal Dunia di Gempat NTT Terus Bertambah, Kini Tembus 105 Orang
Kurs jual beli bank besar pun menunjukkan tren melemah. BCA menetapkan kurs beli Rp17.685 dan kurs jual Rp17.705, sementara Mandiri di Rp17.690–Rp17.720. BRI dan BNI juga mencatat kisaran serupa.
Analis memperkirakan rupiah akan ditutup di kisaran Rp17.730–Rp17.750 per dolar AS. Prospek jangka menengah masih cenderung melemah, seiring kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar. Kombinasi faktor global dan domestik membuat rupiah rentan terhadap tekanan, meski peluang penguatan sesekali masih terbuka. KALKY
Editor : Imron Arlado