
Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa dan PDT Republik Indonesia
BEBERAPA waktu lalu saya mengantre di sebuah minimarket. Tidak banyak orang, hanya lima atau enam pelanggan. Di depan saya berdiri seorang bapak yang usianya mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun. Beliau membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti.
Ketika kasir mulai memanggil antrean berikutnya, tiba-tiba seorang anak muda datang dari samping. Tanpa melihat siapa pun, ia langsung meletakkan barang belanjaannya di atas meja kasir. Bapak tua yang sedari tadi menunggu hanya tersenyum tipis, lalu mundur satu langkah. Tidak ada protes. Tidak ada kemarahan.
Yang membuat saya berpikir justru bukan tindakan anak muda itu. Melainkan kenyataan bahwa pemandangan seperti itu sekarang terasa biasa. Kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua ingin didahulukan. Jalan raya penuh orang yang ingin lebih dulu. Lift belum terbuka sepenuhnya, orang sudah berebut masuk sebelum yang di dalam keluar. Lampu lalu lintas baru berubah hijau beberapa detik, klakson sudah terdengar dari belakang. Bahkan ketika mengirim pesan, kita berharap balasan datang dalam hitungan menit. Jika terlalu lama, kita mulai bertanya-tanya.
Seolah-olah hidup berubah menjadi perlombaan untuk menjadi yang paling depan. Padahal tidak semua hal harus didahului. Ada kalanya menunggu justru menjadi pelajaran yang paling berharga. Sayangnya, kemampuan menunggu mulai menjadi sesuatu yang langka. Kita ingin hasil yang cepat, rezeki yang cepat, karier yang cepat, bahkan ingin doa pun segera dikabulkan.
Mungkin bukan karena kita kurang sabar. Kita hanya terlalu lama hidup di zaman yang membuat segala sesuatu bisa didapat dengan sekali sentuh.
Pesan sampai dalam hitungan detik. Makanan datang hanya dengan beberapa kali menekan layar. Belanja tidak perlu keluar rumah. Lama-kelamaan, kita terbiasa bahwa semua harus segera terjadi. Tanpa sadar, kebiasaan itu ikut terbawa ke dalam cara kita menjalani hidup.
Padahal kehidupan tidak bekerja seperti aplikasi di telepon genggam. Ada proses yang memang harus dilalui. Ada hasil yang memang membutuhkan waktu. Ada doa yang belum dikabulkan hari ini, bukan karena Allah tidak mendengar, tetapi karena Allah sedang menyiapkan waktu yang paling baik.
Al-Qur'an mengingatkan,’’Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.’’ (QS. Al-Baqarah: 45)
