Gerhana Matahari Total 2026: Fenomena Langit Spektakuler di Eropa

Imron Arlado • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:40 WIB
Bayangan Bulan menutupi Matahari, menampakkan korona bercahaya di langit Eropa saat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026.
Bayangan Bulan menutupi Matahari, menampakkan korona bercahaya di langit Eropa saat Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Fenomena langit langka akan kembali menghiasi jagat raya pada tahun 2026. Gerhana Matahari Total dijadwalkan terjadi pada 12 Agustus 2026, dengan jalur totalitas melintasi Greenland, Islandia, Rusia utara, Spanyol, dan sebagian Portugal. Peristiwa ini diperkirakan menjadi salah satu gerhana paling spektakuler dalam dekade ini.

Selain gerhana total, pada 17 Februari 2026 akan terjadi Gerhana Matahari Cincin yang terlihat di kawasan Antarktika dan Samudra Hindia. Dua peristiwa besar ini menjadikan tahun 2026 sebagai momen penting bagi para astronom dan pecinta fenomena langit.

Baca Juga: Puncak Kemarau, Potensi Kebakaran Meningkat

Durasi maksimum gerhana total pada Agustus diperkirakan mencapai 2 menit 18 detik. Dalam rentang waktu singkat tersebut, langit akan berubah gelap menyerupai senja, suhu turun, dan bintang serta planet terang dapat terlihat jelas.

Fenomena visual yang paling ditunggu adalah munculnya korona Matahari, lapisan luar atmosfer Matahari yang biasanya tersembunyi. Selain itu, akan terlihat pula Efek Manik Baily, kilauan cahaya menyerupai berlian di tepi Bulan sesaat sebelum dan sesudah totalitas.

Di Indonesia, masyarakat tidak dapat menyaksikan langsung gerhana total ini karena jalur totalitas tidak melintasi Asia Tenggara. Namun, publik tetap bisa mengikuti melalui siaran langsung observatorium yang disediakan lembaga astronomi internasional seperti NASA dan ESA.

Baca Juga: Mantan Manajer Homestay Divonis 1,5 Tahun

Para ahli astronomi menekankan pentingnya keselamatan dalam pengamatan. Kacamata gerhana bersertifikat atau filter surya wajib digunakan agar mata tidak rusak akibat paparan langsung sinar Matahari.

Fenomena ini juga memiliki dampak ilmiah. Penelitian atmosfer, suhu, hingga perilaku hewan sering dilakukan saat gerhana berlangsung. Bagi ilmuwan, gerhana menjadi laboratorium alam yang jarang terjadi.

Gerhana Matahari Total 2026 akan menjadi catatan penting dalam kalender astronomi dunia. Meski Indonesia tidak termasuk jalur pengamatan, masyarakat tetap bisa merasakan keajaiban kosmik ini melalui teknologi. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan betapa dinamisnya tata surya yang kita huni.

 

KALKY

Editor : Imron Arlado
fenomena astronomi langka korona matahari gerhana matahari nasa gerhana matahari total