JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, budaya membaca buku kini perlahan mulai memudar. Kehadiran media sosial dengan berbagai informasi cepat membuat banyak orang lebih terbiasa membaca potongan informasi dibanding memahami isi berita secara mendalam.
Saat ini, banyak orang lebih memilih menonton video berdurasi singkat atau membaca ringkasan dibandingkan membaca keseluruhan isi berita. Padahal, membaca buku memiliki manfaat yang cukup besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan hingga melatih konsentrasi.
Kebiasaan membaca juga dinilai mampu membantu seseorang memahami persoalan dengan lebih bijak dan tidak mudah terpengaruh dengan informasi hoax. Banyak pengguna media sosial menyebutkan bahwa perkembangan teknologi memang mempermudah akses informasi, namun disisi lain juga membuat masyarakat jadi memiliki pikiran yang pendek.
Baca Juga: Diduga Ngantuk, Pelajar Asal Surabaya Tewas Usai Tabrak Truk KDMP di Mojokerto
Meski demikian, sejumlah komunitas literasi juga masih berupaya untuk menghidupkan kembali budaya membaca buku ini. Salah satu langkahnya adalah mereka mengadakan perpustakaan berjalan hingga membuat tantangan membaca untuk menarik minat masyarakat, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Selain itu, kini banyak content creator mulai membagikan rekomendasi buku yang bagus untuk dibaca di media sosial. Dengan cara ini dianggap cukup efektif untuk mendekatkan dunia literasi kepada generasi muda zaman sekarang.
Membaca buku sebenarnya bukan hanya soal menambah ilmu, tetapi juga melatih kesabaran dan kemampuan memahami sudut pandang yang lebih luas. Di era yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi hal penting agar masyarakat tidak tidak mudah terbawa arus informasi yang menyesatkan. TISA
Editor : Imron Arlado