JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei kembali menjadi pengingat penting bagi bangsa Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, kebiasaan membaca buku di kalangan generasi muda kian menurun. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap masa depan literasi bangsa.
Data internasional menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Rendahnya minat baca bukan sekadar masalah budaya, melainkan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia. Jika generasi muda berhenti membaca, maka daya saing bangsa akan semakin melemah.
Membaca bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis. Tanpa kebiasaan membaca, generasi muda akan kesulitan membedakan fakta dan opini, sehingga lebih mudah terjebak dalam arus informasi palsu atau hoaks.
Krisis literasi juga berdampak pada dunia pendidikan. Siswa yang jarang membaca akan kesulitan memahami materi pelajaran, menurunkan kualitas pembelajaran, dan pada akhirnya menghambat pencapaian akademik.
Dari sisi ekonomi, rendahnya literasi membuat tenaga kerja kurang inovatif dan produktif. Negara dengan tingkat literasi rendah cenderung tertinggal dalam persaingan global, karena inovasi lahir dari pengetahuan yang mendalam.
Budaya membaca yang melemah juga berpotensi mengikis identitas bangsa. Buku adalah sarana untuk mengenal sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur. Jika generasi muda berhenti membaca, maka warisan pengetahuan bisa hilang ditelan zaman.
Hari Buku Nasional seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat membaca. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat perlu bergandengan tangan menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Diduga Ngantuk, Pelajar Asal Surabaya Tewas Usai Tabrak Truk KDMP di Mojokerto
Upaya nyata bisa dilakukan melalui distribusi buku ke daerah terpencil, penguatan perpustakaan sekolah, serta gerakan literasi digital yang memanfaatkan teknologi. Dengan cara ini, akses terhadap bacaan bisa lebih merata.
Komunitas literasi juga memegang peran penting. Gerakan membaca bersama, diskusi buku, hingga klub literasi dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk kembali mencintai buku. Semangat kolektif ini mampu menumbuhkan budaya membaca yang lebih kuat.
Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan peringatan bahwa masa depan bangsa bergantung pada generasi yang gemar membaca. Jika generasi muda berhenti membaca, maka Indonesia akan kehilangan arah. Sebaliknya, jika budaya membaca diperkuat, bangsa ini akan melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan berdaya saing global.
KALKY
Editor : Imron Arlado