KABUPATEN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mulai memperketat mitigasi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pasalnya, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang dan ekstrem di tahun ini.
Kalaksa BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengungkapkan, persiapan menghadapi kemarau ekstrem telah dilakukan melalui koordinasi dengan lintas sektor. Dalam waktu dekat, pasukan gabungan bakal disiagakan dalam mengantisipasi karhutla maupun potensi bencana hidrometeologi kering lainnya. ”Insya Allah di awal Juni akan dilaksanakan apel siaga, simulasi, dan gelar peralatan dengan dengan semua stakeholder,” ungkapnya, kemarin (14/5).
Baca Juga: Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan Banyak Kejutan untuk Pecinta Sepak Bola
Selain personel BPBD, pasukan dari TNI/Polri, petugas lintas organisasi perangkat daerah (OPD), hingga potensi relawan bakal dikerahkan untuk memitigasi bencana di musim kemarau ekstrem. Selain itu, sebanyak 42 personel pemadam kebakaran (damkar) turut disiagakan penuh di dua pos penjagaan. Demikian dengan tujuh unit armada damkar yang juga standby 24 jam. ”Jumlah personel dan unit damkar insya Allah cukup, cuma kita harus menambah pos damkar di utara Sungai Brantas. Karena kalau ada kejadian masih perlu waktu lebih untuk ke sana,” tuturnya.
Berdasarkan peta kerawanan BPBD Kabupaten Mojokerto, wilayah hutan di utara Sungai Brantas memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Selain itu, ungkap Rinaldi, kawasan hutan di Gunung Penanggungan, Welirang, hingga Anjasmoro juga berisiko terbakar. ”Kawasan hutan dari wilayah Ngoro, Trawas, Pacet, dan Gondang rawan terjadi kebakaran,” tandas dia. Namun, atensi BPBD tidak hanya di wilayah hutan. Tapi, antisipasi kebakaran juga dilakukan pada kawasan perkebunan dan lahan. ”Karena ancaman kebakaran bukan hanya di hutan saja, tapi juga ladang maupun kebun tebu itu juga,” pungkas Rinaldi. (ram/ris)
Editor : Imron Arlado