Ketika uang tersebut diambil tanpa penjelasan atau tanpa persetujuan, anak bisa merasa kehilangan kendali atas apa yang menjadi miliknya.JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Setiap momen Lebaran, tradisi pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada anak-anak menjadi salah satu hal yang paling dinanti. Amplop kecil berisi uang itu bukan sekadar nominal, melainkan simbol kebahagiaan, perhatian, dan penghargaan. Namun, di balik tradisi yang hangat ini, ada realistis yang jarang dibicarakan, tidak semua anak benar-benar menikmati hak atas THR yang mereka terima.
Bagi sebagian keluarga, THR anak sering kali dianggap sebagai “uang bersama” yang dapat dikelola oleh orang tua. Alasannya beragam, mulai dari untuk ditabung, digunakan untuk kebutuhan keluarga, hingga sekadar “dipinjam” tanpa kejelasan. Meski terdengar sepele, praktik ini menimbulkan pertanyaan penting. Apakah THR anak memang sepenuhnya menjadi hak orang tua?
Dalam perspektif sederhana, THR yang diberikan kepada anak sejatinya adalah milik anak tersebut. Pemberian itu ditujukan langsung kepada mereka, sebagai bentuk kasih sayang dari pemberi.
Baca Juga: Lima Jalan di Kota Mojokerto Rawan Pelanggaran
Ketika uang tersebut diambil tanpa penjelasan atau tanpa persetujuan, anak bisa merasa kehilangan kendali atas apa yang menjadi miliknya. Lebih dari itu, hal ini dapat memengaruhi cara anak memahami konsep kepemilikan, kepercayaan, dan keadilan sejak dini.
Tidak sedikit anak yang sebenarnya ingin menggunakan THR mereka untuk hal hal sederhana, membeli mainan, menabung untuk sesuatu yang diinginkan, atau bahkan berbagi dengan teman.
Namun keinginan itu kerap terhenti karena keputusan sepihak dari orang tua. Dalam jangka panjang, pengalaman seperti ini bisa membuat anak merasa suaranya tidak didengar atau haknya tidak dihargai.
Di sisi lain, penting juga memahami bahwa tidak semua orang tua memiliki niat buruk. Banyak yang benar-benar ingin mengajarkan anak tentang pengelolaan uang, menabung, atau memenuhi kebutuhan keluarga yang mendesak. Namun, perbedaan antara “mengelola” dan “mengambil alih" menjadi hal yang krusial.
Tanpa komunikasi yang jelas, niat baik bisa berubah menjadi pengalaman yang dirasakan tidak adil oleh anak.
Solusi dari persoalan ini bukanlah dengan menyalahkan satu pihak, melainkan membangun kesadaran bersama. Orang tua dapat mulai melibatkan anak dalam keputusan terkait THR mereka. Misalnya dengan membagi uang tersebut ke dalam beberapa pos untuk ditabung, dibelanjakan, dan mungkin disumbangkan.
Dengan cara ini, anak tetap merasa memiliki hak, sekaligus belajar tanggung jawab.
Transparansi juga menjadi kunci. Jika orang tua memang perlu menggunakan sebagian THR anak, menjelaskan alasan secara jujur dapat membantu menjaga kepercayaan. Anak bukan hanya perlu dilindungi, tetapi juga dihargai sebagai individu yang memiliki hak atas apa yang diberikan kepadanya.
Baca Juga: Besok, Arus Balik di Mojokerto Diperkirakan Alami Peningkatan
Pada akhirnya, THR bukan hanya tentang uang, melainkan tentang nilai yang diwariskan. Cara orang tua memerlukan THR anak mencerminkan bagaimana mereka mengajarkan tentang kejujuran, rasa hormat, dan keadilan.
Di tengah suasana lebaran yang penuh makna, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya berbagi rezeki, tetapi juga memastikan bahwa hak-hak kecil tidak lagi terabaikan dalam diam.
NENSI
Editor : Imron Arlado