Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Uang Lebaran yang Tak Pernah Utuh: Suara Anak yang Terabaikan

Imron Arlado • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:41 WIB
Uang Lebaran yang Tak Pernah Utuh: Suara Anak yang Terabaikan
Uang Lebaran yang Tak Pernah Utuh: Suara Anak yang Terabaikan

JAWA POS RADAR MOJOKERTO — Tradisi pemberian uang baru saat Hari Raya Idulfitri masih menjadi momen yang dinantikan banyak anak di Indonesia. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, muncul fenomena yang jarang disorot: uang Lebaran anak yang tidak pernah benar-benar mereka miliki.

Bagi sebagian anak, amplop berisi uang dari kerabat bukan hanya sekadar hadiah, melainkan simbol kebebasan kecil yang jarang mereka rasakan. Sayangnya, kebahagiaan itu kerap berumur pendek.

“Biasanya habis Lebaran, uangnya diminta orang tua untuk disimpan. Tapi setelah itu, saya nggak pernah tahu lagi uangnya ke mana,” ujar salah satu siswa SMP di wilayah Kapasari yang enggan disebutkan namanya.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Beberapa anak mengaku mengalami hal serupa setiap tahun. Uang yang awalnya diberikan untuk keperluan pribadi, seperti membeli kebutuhan atau hiburan, sering kali dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Menurut pengamat sosial keluarga, praktik tersebut kerap terjadi karena tekanan ekonomi yang dihadapi orang tua. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan keluarga dianggap lebih prioritas dibandingkan keinginan anak.

Baca Juga: Lima Jalan di Kota Mojokerto Rawan Pelanggaran

Namun demikian, hal ini juga menimbulkan dampak psikologis pada anak. Rasa kecewa, kehilangan kepercayaan, hingga perasaan tidak dihargai menjadi konsekuensi yang muncul secara perlahan.

“Anak bisa merasa haknya tidak diakui. Jika terus terjadi, ini dapat memengaruhi cara mereka memandang kepercayaan dalam keluarga,” jelas seorang konselor pendidikan.

Di sisi lain, sebagian orang tua beralasan bahwa pengelolaan uang anak adalah bentuk tanggung jawab. Mereka khawatir anak belum mampu mengatur keuangan secara bijak, sehingga memilih untuk mengambil alih pengelolaannya.

Meski demikian, para ahli menyarankan adanya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Transparansi dalam penggunaan uang, serta memberikan sebagian hak kepada anak untuk mengelola sendiri, dinilai dapat menjadi solusi yang lebih seimbang.

Lebaran seharusnya menjadi momen kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Memberikan mereka kesempatan untuk merasakan kepemilikan, sekecil apa pun, dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun rasa percaya dan penghargaan dalam keluarga.

Di tengah tradisi yang terus berjalan, suara anak-anak ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang jumlah yang diterima, tetapi juga tentang hak yang diakui.

JATI

Editor : Imron Arlado
#THR anak #edukasi finansial #uang lebaran #hak anak #THR 2026