Kondisi ini dirasakan langsung oleh warga di wilayah Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari. Salah satunya Caca, warga setempat yang mengaku sangat terdampak karena memiliki usaha masakan rumahan, terlebih di bulan Ramadan saat permintaan pesanan meningkat.
"Inggih saya juga korban PDAM. Padahal kalau Ramadan begini saya menerima pesanan masakan. Sementara air dari sanyo juga tidak bisa dipakai karena kualitasnya jelek," keluh Caca.
Ia menyebut aliran air dari PDAM kerap byar-pet atau mati hidup tanpa pemberitahuan yang jelas. Bahkan dalam beberapa hari terakhir air disebut sempat tidak mengalir sama sekali.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat merugikan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan air dari PDAM, apalagi di tengah meningkatnya aktivitas rumah tangga dan usaha kuliner selama Ramadan.
"PDAMnya byar-pet seenaknya sendiri. Tapi kalau telat bayar langsung kena denda, dendanya besar Rp15 ribu. Sementara pelayanan seperti ini," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan pada akun Instagram resmi Perumdam Majatirta, tidak ditemukan pemberitahuan terbaru terkait penghentian atau gangguan distribusi air bersih di wilayah Kota Mojokerto.
Informasi gangguan terakhir yang diumumkan melalui akun Instagram tersebut tercatat pada 3 Maret lalu, terkait perbaikan pipa distribusi yang bocor di kawasan Jalan Kuwung, Kelurahan Meri.
Gangguan itu disebut berdampak pada sejumlah wilayah pelanggan, di antaranya Perumahan Wates, Griya Permata Meri, Meri Bypass, Perumahan Magersari Indah, Perumahan Gatoel, hingga Perumahan Surodinawan.
Warga berharap ada evaluasi serius terhadap kualitas layanan air bersih di Kota Mojokerto. Selain itu, pelanggan juga meminta adanya transparansi informasi dari PDAM ketika terjadi gangguan distribusi agar masyarakat dapat mengantisipasi kebutuhan air.
"Ini sudah mulai terasa lagi seperti dulu. Beberapa hari lalu PDAM Kota Mojokerto macet, tidak keluar air," pungkasnya. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah