Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dulu Dipetik Gratis, Kini Tembus Rp 600 Ribu per Kg! Kersen Indonesia Jadi Superfood Mahal di Luar Negeri

Imron Arlado • Senin, 2 Maret 2026 | 22:33 WIB

Kersen atau Jamaican Cherry yang kini bernilai ratusan ribu rupiah di pasar global.
Kersen atau Jamaican Cherry yang kini bernilai ratusan ribu rupiah di pasar global.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Siapa sangka buah kecil yang dulu sering dipetik gratis sepulang sekolah kini bernilai ratusan ribu rupiah di luar negeri. Kersen, yang tumbuh liar di pekarangan dan pinggir jalan Indonesia, ternyata dijual mahal di pasar global.

Di Amerika Serikat, buah yang dikenal sebagai Jamaican Cherry itu dibanderol Rp 350 ribu hingga Rp 600 ribu per kilogram dalam kondisi segar maupun beku (fresh/frozen exotic berry). Di Eropa, harganya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per kilogram. Sementara di Filipina dan sejumlah negara Amerika Latin, kersen dijual dalam kemasan kecil sebagai buah premium.

Padahal di Indonesia, kersen kerap dianggap buah rumahan biasa, bahkan disebut sebagai “buah masa kecil gratisan”.

 

Dari Buah Liar Jadi Superfood

Secara ilmiah, kersen memiliki nama Muntingia calabura. Di pasar internasional, namanya lebih populer sebagai Jamaican Cherry.

 

 

Buah mungil berwarna merah cerah ini mulai dilirik karena kandungan gizinya. Kersen kaya vitamin C, flavonoid, antosianin, serta berbagai senyawa antioksidan. Kandungan tersebut membuatnya disebut sebagai salah satu superfood tropis.

Beberapa penelitian menyebutkan vitamin C dalam kersen cukup tinggi, bahkan mampu bersaing dengan sejumlah buah populer lainnya. Selain itu, senyawa bioaktif didalamnya berpotensi memiliki efek antiinflamasi, antibakteri, hingga membantu menjaga daya tahan tubuh.

Tren global yang kembali ke bahan alami dan pangan fungsional ikut mendongkrak popularitas kersen. Konsumen luar negeri melihatnya bukan sekadar buah liar, melainkan exotic berry dengan manfaat kesehatan.

 

 

Diolah Jadi Produk Premium

Tidak hanya dijual sebagai buah segar, kersen di luar negeri juga diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Mulai dari Jamaican Cherry Tea, superfood powder, infused drink herbal, ekstrak vitamin, hingga selai premium. Produk olahan tersebut bisa dihargai hingga 10 kali lipat dibanding bahan mentahnya.

 

Harga tinggi itu dipengaruhi beberapa faktor. Di negara-negara tersebut, kersen tidak tumbuh liar seperti di Indonesia. Ketersediaannya terbatas dan dianggap unik. Ditambah lagi biaya impor, penyimpanan beku, proses standarisasi ekstrak, hingga branding sebagai produk herbal premium.

 

Ironi di Negeri Sendiri

Berbanding terbalik dengan kondisi di luar negeri, kersen di Indonesia tumbuh subur di pinggir jalan, halaman rumah, hingga lingkungan sekolah. Banyak buahnya jatuh dan membusuk karena dianggap tak memiliki nilai ekonomi.

Padahal, jika dikelola dengan baik, kersen berpotensi menjadi komoditas bernilai tinggi. Tidak hanya dalam bentuk buah segar, tetapi juga olahan seperti jus, selai, teh herbal, hingga produk beku untuk ekspor.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa sesuatu yang terlihat biasa di tempat kita, bisa menjadi barang mewah di mata dunia.

Kecil bentuknya, tapi nilainya tinggi. Tinggal bagaimana kita melihat dan mengelolanya. NESTI

Editor : Imron Arlado
#potensi ekspor #Jamaican Cherry #Kersen #superfood tropis #Muntingia calabura #buah lokal #umkm #harga kersen luar negeri