JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu kekhawatiran besar di seluruh dunia karena dapat memicu perang yang lebih luas.
Operasi militer besar tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026 dan menyasar sejumlah wilayah penting di Iran, termasuk ibu kota Teheran dan beberapa provinsi strategis lainnya.
Pemerintah Iran merespons situasi tersebut dengan menutup wilayah udaranya, yang menandakan bahwa kondisi keamanan yang sangat tegang.
Serangan tersebut adalah langkah militer terkoordinasi yang bertujuan untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran setelah upaya diplomasi yang panjang dan tidak mencapai kesepakatan.
Situasi tersebut langsung meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah, karena Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke target militer Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah regional.
Balasan tersebut telah memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi bersifat terbatas, melainkan sudah berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Baca Juga: Truk Tangki Muatan Solar Terjun dari Tol Jombang–Mojokerto, Sopir Patah Kaki
Dampak serangan tersebut terasa di banyak kota Iran dengan laporan ledakan besar dan kerusakan infrastruktur. Korban jiwa dan kerugian sipil juga dilaporkan meningkat.
Dan jumlah pastinya masih terus diperbarui oleh berbagai sumber internasional. Situasi kemanusiaan juga menjadi perhatian karena konflik terjadi di wilayah padat penduduk dan berisiko memperluas penderitaan masyarakat sipil.
Reaksi dunia internasional telah menunjukkan kekhawatiran serius terhadap kemungkinan perang yang lebih luas. Sebagian negara dan organisasi internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah konflik regional yang lebih besar.
Selain dampak militer dan politik, konflik tersebut juga memicu kekhawatiran ekonomi global. Ketegangan di kawasan penghasil energi utama dunia berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas.
Sehingga dapat mempengaruhi harga energi internasional dan stabilitas ekonomi dunia.
Risiko terbesar yang menjadi perhatian para pemimpin dunia yaitu kemungkinan konflik tersebut meluas karena adanya aliansi militer, keterlibatan kelompok bersenjata regional, dan keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan.
LULUS
Editor : Imron Arlado