JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Setiap Ramadan tiba, suasana sore hari terasa sangat berbeda dari hari biasanya. Jalanan mulai ramai, aroma gorengan menggoda dari pinggir jalan, dan langit senja seolah jadi latar yang sempurna.
Ngabuburit, bagi anak muda bukan hanya menunggu waktu berbuka, melainkan ritual harian yang penuh cerita, tawa, dan kebersamaan.
Ngabuburit kini telah berkembang menjadi gaya hidup khas Ramadan. Jika dulu identik dengan hanya duduk santai menunggu azan magrib, sekarang banyak anak muda melakukan ngabuburit. Ada yang memilih berburu takjil, ada yang menghabiskan waktu di taman kota, masjid atau bahkan di cafe bersama teman-teman mereka.
Salah satu daya tarik utama ngabuburit adalah suasana kebersamaannya. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, momen menjelang berbuka terasa lebih bermakna ketika dihabiskan bersama dengan orang-orang terdekat. Canda sederhana terasa lebih hangat, di sinilah Ramadan dapat mempererat hubungan sosial.
Tak sedikit anak muda yang memanfaatkan ngabuburit untuk kegiatan positif, seperti bagi-bagi takjil dan mengikuti kajian sore. Aktivitas ini menunjukkan bahwa generasi muda tak hanya ingin bersenang-senang tetapi juga ingin memberikan dampak baik bagi sesama.
Perkembangan teknologi yang semakin canggih kini membuat ngabuburit menjadi lebih berwarna. Banyak anak muda yang membuat konten tentang vlog ngabuburit, rekomendasi takjil, hingga tips produktif saat puasa.
Namun, dibalik keseruan itu seharusnya ngabuburit menjadi waktu refleksi, memperbanyak doa, dan mempersiapkan diri menyambut berbuka dengan penuh rasa syukur.
TISA
Editor : Imron Arlado