JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kenaikan harga makanan pokok kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah komoditas seperti beras, telur ayam, hingga sayuran mengalami lonjakan harga di berbagai daerah.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, situasi membuat daya beli masyarakat semakin tertekan. Salah satu faktor yang disebut-sebut ikut mempengaruhi dinamika harga adalah implementasi program MBG (Makan Bergizi Gratis).
Program MBG sejatinya memiliki tujuan mulia, yakni meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan. Pemerintah menggandeng berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat terpenuhi setiap hari.
Namun, dilapangan, peningkatan permintaan bahan pokok secara signifikan diduga ikut mendorong kenaikan harga di Tingkat pasar.
Secara teori ekonomi sederhana, Ketika permintaan meningkat sementara pasokan belum mampu mengimbangi, harga cenderung naik. Inilah yang dirasakan pedagang dan konsumen.
Beberapa pedagang mengaku harga dari distributor sudah lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, mereka terpaksa menyesuaikan harga jual agar tetap mendapatkan keuntungan.
Di sisi lain, Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak. Ibu rumah tangga harus memutar otak agar uang belanja cukup hingga pekan akhir, Tidak sedikit yang akhirnya mengurangi porsi pembelian atau mengganti bahan makanan dengan alternatif yang lebih murah.
Kenaikan harga bahan pokok berbanding terbalik dengan peningkatan pendapatan masyarakat yang relatif stagnan. Upah tidak selalu naik secepat harga kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda: kebutuhan meningkat, sementara kemampuan pembeli menurun.
Bagi pekerja informal dan buruh harian, situasinya bahkan lebih berat. Pengeluaran untuk makanan menyerap bagian besar pendapatan mereka. Ketika harga naik, ruang untuk kebutuhan lain seperti Pendidikan, kesehatan dan tabungan semakin menyempit.
Pemerintah menghadapi tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara keberhasilan program MBG dan stabilitas harga pasar. Distribusi bahan pangan yang merata, pengawasan rantai pasok, hingga penguatan produksi dalam negeri menjadi Langkah penting yang perlu diperhatikan.
Selain itu, transparansi data pasokan dan permintaan juga dibutuhkan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran. Jika lonjakan permintaan dari program sosial tidak diantisipasi dengan peningkatan produksi, gejolak harga akan terus berulang.
NENSI