JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Belakangan ini tarot semakin populer, terutama di kalangan anak muda di Indonesia. Sebagian orang menggunakan tarot untuk mencari gambaran masa depan, memahami perasaan, atau sekadar mencari arah saat bingung mengambil keputusan.
Tetapi di sisi lain, muncul pandangan skeptis yang mempertanyakan: apakah tarot benar-benar mencerminkan kenyataan, atau hanya efek psikologis yang terasa nyata bagi penggunanya?
Tarot adalah kumpulan kartu bergambar yang penuh simbol. Di praktiknya, pembaca tarot menafsirkan makna simbol untuk memberikan pesan atau gambaran situasi hidup seseorang.
Secara sejarah dan kajian ilmiah modern, tidak ada bukti menunjukkan bahwa kartu tarot memiliki kemampuan supranatural untuk mengetahui masa depan nantinya.
Dari sudut pandang psikologi, ada beberapa alasan kenapa tarot dapat terasa akurat bagi banyak orang. Salah satunya adalah fenomena self-fulfilling prophecy, yaitu saat seseorang percaya pada sebuah prediksi dan tanpa sadar bertindak yang membuat prediksi itu terjadi.
Misalnya, jika tarot menyarankan akan datang peluang baru, seseorang mungkin menjadi lebih terbuka dan berani mencoba hal baru. Dan hasilnya terasa seperti ramalan yang terbukti, padahal perilaku tersebutlah yang mendorong hasil tersebut terjadi.
Selain itu, ada juga Barnum effect, yaitu dimana kecenderungan manusia merasa deskripsi umum sebagai sesuatu yang sangat personal. Pernyataan seperti “Anda sedang menghadapi pilihan penting dalam hidup” kedengarannya spesifik, padahal dapat berlaku hampir di semua orang.
Dan ditambah confirmation bias, yaitu kebiasaan manusia lebih mudah mengingat hal yang sesuai dengan keyakinan dan mengabaikan yang tidak cocok. Kombinasi dua mekanisme tersebut yang membuat pembacaan tarot terasa tepat sasaran.
Sebagian orang, tarot juga berfungsi untuk menghadapi kecemasan dan ketidakpastian hidup. Dalam kondisi stres atau bingung, manusia lebih cenderung mencari makna.
Tarot dapat memberikan struktur cerita atau sudut pandang baru yang membantu seseorang merenungkan masalahnya. Jadi konteks tarot lebih berfungsi sebagai alat refleksi diri atau dukungan emosional, bukan alat prediksi yang terbukti secara ilmiah.
Jadi, skeptisisme terhadap tarot tidak selalu berarti menolak pengalaman pribadi seseorang. Pandangan skeptis lebih menekankan apa yang terasa nyata belum tentu merupakan realita objektif.
Baca Juga: Tragis! Begini Motif di Balik Tewasnya Pelajar SMPN 26 Bandung
Tarot dapat memberi makna dan kenyamanan bagi sebagian orang, tetapi penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa pengaruh terbesarnya berasal dari cara kerja pikiran masing-masing.
LULUS
Editor : Imron Arlado