JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Belakangan ini, kemunculan ikan sapu-sapu dengan jumlah yang sangat banyak di sungai Indonesia kembali menjadi banyak perhatian publik. Salah satu yang paling disorot adalah Sungai Ciliwung di Jakarta.
Ikan tersebut awalnya dikenal sebagai penghuni akuarium ini justru menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai, dan menjadi tanda bahwa kondisi lingkungan air tawar Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Ikan sapu-sapu berasal dari genus Pterygoplichthys atau Hypostomus, bukan ikan asli dari Indonesia. Habitat aslinya ada di Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Ikan tersebut memiliki mulut khusus yang bisa menempel di permukaan keras, jadi sering dimanfaatkan untuk membersihkan alga di akuarium. Masalah ini mulai muncul saat ikan sapu-sapu dilepas ke sungai dan perairan umum dengan sembarangan.
Di alam bebas, ikan sapu-sapu mampu hidup dan berkembang sangat cepat karena memiliki daya tahan tinggi, termasuk di air yang kotor dan sudah tercemar.
Alasan utama kenapa ikan sapu-sapu bisa berkembang pesat di sungai Indonesia:
- Kondisi Sungai yang sudah Tercemar
Banyak sungai di Indonesia sudah tercemar oleh berbagai limbah. Kondisi air yang kotor membuat ikan lokal sulit bertahan hidup, sementara itu ikan sapu-sapu justru dapat menyesuaikan diri dan berkembang dengan baik.
- Perkembangbiakan yang Cepat
Ikan sapu-sapu mempunyai kemampuan berkembang biak tinggi. Saat kondisi persaingan dengan ikan asli melemah karena lingkungan yang rusak, ikan sapu-sapu dengan mudah menguasai ruang hidup.
- Pelepasan dari Akuarium oleh Manusia
Sebagian besar ikan sapu-sapu berasal dari akuarium rumahan. Saat ukurannya sudah besar dan tidak diinginkan, sebagian orang memilih opsi melepasnya ke sungai, tanpa disadari adanya dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
Berikut beberapa langkah yang mulai sekarang diterapkan untuk mengatasi ledakan ikan sapu-sapu yaitu:
- Pemantauan dan penelitian populasi ikan invasif.
- Edukasi masyarakat agar tidak melepas ikan asing ke sungai sembarangan.
- Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak atau bahan baku tepung ikan, jadi, populasinya dapat berkurang dan memiliki nilai ekonomi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, membutuhkan perbaikan kualitas air, pengendalian spesies invasif, dan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan asing ke alam Indonesia. Tanpa upaya tersebut, ikan sapu-sapu terus menjadi simbol kerusakan sungai di Indonesia.
LULUS
Editor : Imron Arlado