JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tradisi budaya kembali dihidupkan warga Desa Banjaragung, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Minggu (8/2/2026), pemerintah desa menggelar Ruah Desa Banjaragung yang dikemas melalui Festival Gunungan, diikuti seluruh dusun yang ada di desa tersebut.
Sebanyak enam dusun ambil bagian dalam festival perdana ini. Yakni Dusun Gatoel, Jetis, Gedang Klutuk, Unggahan, Brongkol, dan Genengan.
Masing-masing dusun menampilkan satu gunungan dengan konsep, desain, dan kreativitas berbeda, berisi hasil bumi serta produk UMKM lokal.
Kepala Desa Banjaragung, Mujib, mengatakan festival ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang mulai tergerus perkembangan zaman.
“Budaya itu sekarang semakin terkikis. Maka dari itu, kita hidupkan kembali budaya yang ada di Kabupaten Mojokerto, khususnya di Desa Banjaragung, supaya masyarakat tetap ingat pada sesepuh,” ujarnya.
Ia menegaskan, Festival Gunungan ini merupakan bagian dari peringatan Ruah Desa yang untuk pertama kalinya digelar di Banjaragung.
“Ini masih pertama kali kita mengadakan Ruah Desa sekaligus Festival Gunungan. Semua dusun mendukung dan berpartisipasi penuh,” tambahnya.
Antusiasme warga terlihat sejak proses persiapan. Mujib menyebut, masyarakat telah bergotong royong selama hampir satu pekan demi menyukseskan acara.
“Masyarakat sangat antusias. Mulai dari persiapan yang melelahkan sampai memanfaatkan potensi lokal, termasuk UMKM yang kita fasilitasi untuk berjualan di lokasi acara,” katanya.
Ketua Pelaksana Festival, Danang, menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi melalui kirab budaya dari Pasar Tani menuju lapangan desa. Setiap gunungan diarak bersama-sama oleh warga dusun.
“Gunungan ini dilombakan, nanti ada juara satu, dua, dan tiga. Setelah dikumpulkan di lapangan, kita lanjut doa bersama, malamnya ditutup dengan pagelaran wayang kulit,” jelasnya.
Adapun kriteria penilaian meliputi kreativitas, kekompakan, keseragaman, serta atraksi pendukung. Tema besar festival tahun ini adalah “Banjaragung Bersholawat dan Berbudaya.”
“Kita ingin Banjaragung tidak lupa Tuhannya dan tidak lupa budayanya. Walaupun desa kita sudah dekat dengan kota dan digitalisasi, budaya harus tetap dijaga,” tegas Danang.
Salah satu peserta festival, Dusun Brongkol, tampil mencuri perhatian dengan gunungan bertema naga yang membelit hasil bumi. Perwakilan warga Dusun Brongkol, Suyanto, mengungkapkan pembuatan gunungan melibatkan seluruh elemen warga.
“Kami mengerjakan sekitar dua minggu, mulai dari perancangan sampai pengisian gunungan. Semua bahan murni hasil bumi warga Dusun Brongkol,” katanya.
Menurut Suyanto, konsep naga memiliki makna historis. “Naga ini kita ibaratkan penjajah yang dulu mengambil hasil bumi pribumi. Ini bentuk flashback sejarah agar generasi sekarang tidak lupa,” jelasnya. NESTI
Editor : Imron Arlado