JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Prabowo Subianto menyampaikan harapan agar Nahdlatul Ulama terus memperkuat perannya dalam mencerdaskan dan menjaga toleransi bangsa saat menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Malang, Jawa Timur, pada hari Minggu (8/2/2026).
"Selamat satu abad Nahdlatul Ulama. Semoga Nahdlatul Ulama semakin besar kiprahnya dalam mencerdaskan, mensejahterakan, menyatukan, dan menjaga kedamaian dalam kehidupan bangsa Indonesia. Nahdlatul Ulama semoga terus memberi contoh dalam menjaga toleransi antara semua umat beragama," ucap Prabowo Subianto.
Dalam acara tersebut, Prabowo turut menyampaikan apresiasinya kepada Nahdlatul Ulama yang, menurutnya, selalu setia menjaga martabat dan kebesaran bangsa Indonesia. Ucapan tersebut melengkapi harapan dan doa yang disampaikan untuk kiprah NU memasuki usia satu abad.
Baca Juga: Rasapura Sunrise Mall Mojokerto Hadirkan Gurihnya Tahu Tek Legendaris
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Anwar Manshur hingga Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan sejumlah tokoh penting lainnya.
Gagasan pendirian Nahdlatul Ulama muncul pada awal 1920-an ketika KH Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan pembentukan jam’iyyah kepada KH Hasyim Asy’ari. KH Hasyim memilih menunggu petunjuk melalui istikharah, yang kemudian datang lewat KH Cholil Bangkalan melalui simbol-simbol yang dibawa santrinya, KH As’ad Syamsul Arifin, seperti tasbih dan bacaan Asmaul Husna.
Sebelum NU berdiri, para kiai pesantren telah membangun berbagai wadah pergerakan, seperti Nahdlatul Wathon, Nahdlatul Tujjar, dan Tashwirul Afkar. Dorongan semakin kuat ketika muncul ancaman pembatasan mazhab di Hijaz, sehingga KH Wahab membentuk Komite Hijaz pada 1926 untuk memperjuangkan kebebasan bermazhab dalam forum internasional di Makkah.
Baca Juga: Prinsip 3R sebagai Lifestyle, Dari Kebiasaan Menjadi Kebijakan
Kebutuhan mengutus delegasi secara resmi membuat para ulama sepakat membentuk Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926. Sejak saat itu NU berkembang sebagai organisasi keagamaan yang meneguhkan tradisi Islam Nusantara dan berperan penting dalam kehidupan sosial serta kebangsaan Indonesia.
Memasuki usia satu abad, perjalanan panjang NU itu tercermin dalam berbagai kiprah dan pencapaian yang terus berkembang dari masa ke masa. Salah satu capaian penting NU adalah terbitnya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Kebijakan ini menjadi bentuk penghargaan negara terhadap peran ulama dan kontribusi kaum santri dalam sejarah perjuangan Indonesia. ASIKHA
Editor : Imron Arlado