JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam Spider-Man 3 (2007), konflik terbesar Peter Parker tidak hanya datang dari musuh berkekuatan super. Namun, dari masa lalu yang belum tuntas.
Peter hidup dengan satu luka besar sejak lama yaitu kematian paman Ben. Selama bertahun-tahun, Peter percaya bahwa pembunuh pamannya adalah seorang penjahat yang telah ia hadapi sebelumya.
Dengan keyakinan tersebut, menjadi dasar moral hidupnya sebagai Spider-Man. Namun, segalanya berubah ketika ia mengetahui bahwa Flint Marko (Sandman) terlibat langsung dalam kematian pamannya.
Informasi tersebut telah menghancurkan pondasi emosional Peter. Luka lama yang harusnya sembuh justru terbuka kembali dan memicu amarah dan keinginan balas dendam.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Kota Mojokerto Kembali Melejit
Dengan kehadiran simbiotik hitam justru memperparah konflik batin Peter. Kostum ini bukan menciptakan sisi gelap Peter, namun memperkuat emosi yang selama ini ia pendam. Banyak amarah, ego, dan keinginan untuk membalas dendamnya dan rasa sakitnya di masa lalu.
Dengan kekuatan baru, Peter menjadi lebih agresif dan kehilangan empati. Ia juga mulai membenarkan kekerasan atas nama keadilan, dan prinsip “kekuatan besar harus diimbangi tanggung jawab besar” mulai terkikis di dirinya.
Bayang-bayang masa lalunya juga membuat merusak hubungan dengan orang terdekatnya yaitu Mary Jane Watson telah merasakan perubahan sikap Peter yang semakin egois dan tidak peka.
Dan Harry Osborn, ia sahabat lama Peter, adalah cermin lain dari masa lalu yang belum selesai dengan dendam lama akibat kematian ayahnya yang menyebabkan hubungan mereka hancur.
Baca Juga: Tertembusnya Pertahanan Pejuang di Mojosari, Terobos Duduki Wilayah Kota Mojokerto
Berjalannya waktu, Peter menyadari bahwa ia bukan sedang melawan Sandman, Venom, atau Harry semata. Ia sedang melawan rasa bersalahnya yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan. Amarah selama ini ia simpan. Dan keyakinan keliru bahwa balas dendam justru membawa ketenangan.
Akhirnya Spider-Man 3 menutup kisahnya dengan pesan yang mendalam bahwa menjadi pahlawan tidak hanya soal mengalahkan musuh, tetapi berani berdamai dengan masa lalu.
LULUS
Editor : Imron Arlado