Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Oldest Child Syndrome, Sindrom Anak Sulung yang Kerap Menyimpan Beban Tersembunyi

Eki Septian Tri Wulansari • Jumat, 23 Januari 2026 | 19:53 WIB
Oldest Child Syndrome, Sindrom Anak Sulung yang Kerap Menyimpan Beban Tersembunyi (Freepik)
Oldest Child Syndrome, Sindrom Anak Sulung yang Kerap Menyimpan Beban Tersembunyi (Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Menjalani peran sebagai anak pertama tak selalu menyenangkan. Belajar bertumbuh bersama orang tua yang baru pertama kali juga menjalani perannya tidaklah mudah.

Apalagi jika dikemudian hari bertambah lagi anggota baru, kedatangan adik atau saudara kandung yang tak hanya menambah peran dan tanggung jawab orang tua.

Kehadiran saudara kandung juga mengubah peran anak tunggal menjadi anak pertama dan sebagai seorang kakak bagi sang adik.

Peranan sebagai anak pertama juga memiliki tantangannya sendiri, ditentukan pula oleh lingkungan dan melibatkan pola asuh kedua orang tua dalam membentuk karakter sulung.

Menurut berbagai sumber menyebut bahwa tak jarang anak sulung memiliki pola perilaku dan kepribadian yang khas buntut perannya sebagai seorang anak pertama. Pola perilaku khas tersebut dapat disebut oldest child syndrome.

Sindrom anak sulung atau oldest child syndrome biasanya ditandai dengan ciri, karakter, dan permasalahan berikut

1. Menjadi pemimpin dan panutan

Terlahir lebih dulu memuat konsepsi pikir bahwa anak sulung harus menjadi pemimpin bagi saudara lainnya. Anak sulung didorong untuk menjadi panutan karena dianggap lebih dewasa.

Terkadang, perilaku anak sulung yang harus memimpin dan menjadi contoh ini memberikan tekanan yang cukup besar karena dituntut menjadi lebih dewasa, bahkan dari seusianya.

2. Memiliki beban ekspektasi tinggi

Ekspektasi orang tua pada anak sulung biasanya lebih tinggi karena dianggap sudah jauh lebih dewasa daripada saudara lainnya.

Baca Juga: Kehilangan Figur Ayah Bisa Sebabkan Father Hunger, Apa Bedanya dengan Fatherless?

Setiap kesalahan atau kegagalan dinilai dosa yang tak seharusnya dilakukan karena bisa jadi contoh buruk buat saudara dibawahnya. Beban ekspektasi inilah yang mendorong munculnya tekanan pada si sulung. 

3. Memiliki tanggung jawab tinggi

Peran penjaga untuk sang adik tiba-tiba menjadi bagian dari tugas anak sulung.Sulung dianggap harus bertanggung jawab dalam menjaga adiknya supaya tetap aman.

Bagian dari hal yang tak seharusnya dilakukan seperti tanggung jawab finansial juga kadang menjadi bagian yang harus dipikirkan oleh anak sulung.

4. Perfeksionis

Perfeksionis adalah salah satu bagian dari ciri oldest child syndrome.

Berakar dari ketakutan berbuat salah, sulung akan selalu berfokus pada cara menjadi sempurna.

Kesempurnaan seakan jadi kewajiban demi meraih perhatian dan menjadi panutan yang layak buat saudara dibawahnya.

5. Sering jadi tempat uji coba

Orang tua akan belajar menjadi orang tua saat memiliki anak pertama. Tak heran jika sulung kerap jadi uji coba buat keduanya, baik ayah maupun ibu.

Dari sinilah perbedaan karakter anak sulung, anak tengah, maupun bungsu terlihat. Bukan tanpa alasan, didikan yang dirasa kurang cocok saat dicoba pada anak pertama, akan memunculkan didikan berbeda pada anak selanjutnya.

Jadi, perbedaan karakter bukan hanya didapat secara lahir, namun bertumbuh perlahan dengan beragam metode dari orang tua saat memiliki anak pertama, kedua, dan seterusnya.

Baca Juga: Gen Z Lebih Banyak Datangi Psikolog, Begini Alasannya

Oldest Child Syndrome Bersifat Negatif?

Seorang anak dengan oldest child syndrome memiliki beberapa resiko yang sifatnya negatif seperti rasa tertekan berlebih karena ekspektasi terlalu tinggi.

- Ekspektasi keberhasilan seorang anak sulung memunculkan tekanan tersendiri karena sulung akan merasa tak layak saat mendapati kegagalan. 

Sejatinya, kegagalan adalah hal lumrah, namun akan jadi momok menyeramkan bagi sulung yang menempa beban ekspektasi terlalu berat.

- Saat dirinya tidak sempurna, melakukan kesalahan, merasa tidak bisa dibanggakan, atau tidak bisa melindungi saudaranya, tentu perasaan sedih datang tak terelakkan, bahkan bisa mengganggu kesehatan mental.

- Kehidupan yang kompetitif karena harus bersaing dengan saudara kandung sudah menjadi resiko yang harus dihadapi. Meski begitu, tak jarang sulung harus mengalah demi memuaskan keinginan sang adik.

- Menjaga saudara kandung adalah kewajiban. Aturan semacam itu memunculkan keterbatasan ruang gerak bagi sang kakak atau anak pertama karena harus selalu siap siaga saat dibutuhkan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Ketika tahu tengah menjalani fase oldest child syndrome, hal yang bisa dilakukan adalah melakukan komunikasi.

Komunikasi tentunya dilakukan bersama orang tua, guna menjelaskan beban yang tengah dirasakan dan keinginan untuk dimengerti sesuai porsinya.

Berkeluh kesah pada adik juga tak menandakan kakak yang lemah, itu upaya membagi suka duka antar saudara.

Pastikan tetap memiliki kehidupan yang seimbang, antara tugas menjadi seorang kakak dan menjadi pahlawan untuk diri sendiri.

Memiliki ruang sendiri bukan egois, melainkan gagasan bahwa anak sulung pun layak mendapatkan waktu, perhatian dan tanggung jawab normal layaknya anak lain, bukan selalu terbebani kewajiban yang tak seharusnya. Dari beberapa poin diatas, dukungan sosial begitu dibutuhkan.

Editor : Imron Arlado
#Ekspektasi #anak sulung #orang tua #egois #beban #perfeksionis #oldest child syndrome #finansial