JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat aktivitas berjalan kaki yang rendah.
Kondisi ini menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kesehatan masyarakat hingga perencanaan kota yang kurang ramah lingkungan.
Salah satu faktor utama rendahnya budaya berjalan kaki di Indonesia adalah tingginya ketergantungan pada kendaraan bermotor. Bahkan untuk jarak yang relatif dekat, masyarakat cenderung memilih kendaraan dibanding berjalan kaki. Kemacetan juga menjadi faktor trotoar dilewati oleh pengendara motor yang tidak bertanggung jawab.
Baca Juga: Pengajuan Pernikahan Siri di Kabupaten Mojokerto Meningkat Drastis selama 2025
Minimnya fasilitas pejalan kaki juga menjadi penyebab utama. Seperti trotoar rusak, sempit, terhalang pedagang kaki lima atau bahkan beralih fungsi menjadi area parkir. Kondisi itulah yang membuat pejalan kaki merasa tidak nyaman dan aman, sehingga berjalan kaki bukan pilihan yang menarik.
Iklim tropis dengan cuaca hujan dan suhu panas sering dijadikan alasan masyarakat enggan berjalan kaki. Selain itu, tata kota yang tidak terintegrasi jarak antara rumah, sekolah, tempat kerja, dan pusat aktivitas yang berjauhan membuat pejalan kaki menjadi kurang realistis untuk mobilitas harian.
Dengan rendahnya aktivitas berjalan kaki berdampak langsung pada
- Meningkatnya gaya hidup sedentari
- Risiko obesitas dan penyakit metabolic
- Polusi udara akibat emisi kendaraan
- Kemacetan kronis di perkotaan
Beberapa kota di Indonesia mulai melakukan perbaikan dengan membangun trotoar ramah difabel, jalur pedestrian terintegrasi transportasi umum, dan kawasan bebas kendaraan. Namun, upaya ini masih bersifat parsial dan belum merata di seluruh wilayah.
Beberapa orang mengungkapkan bahwa ia tidak malas berjalan kaki. Namun, fasilitas di Indonesia yang belum terpenuhi membuat masyarakat enggan melakukan aktivitas tersebut.
Tidak hanya jalur pejalan kaki, adapun jalur sepeda ontel yang sekarang diambil alih oleh kendaraan bermotor yang tidak sadar dengan jalurnya sendiri. Semua ini tergantung pada pola pikir masyarakat dan kesadaran masyarakat.
NENSI
Editor : Imron Arlado