JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Gen Z kini tercatat lebih banyak mendatangi psikolog dibanding generasi sebelumnya.
Hal ini menunjukkan meningkatnya gangguan kesehatan mental sekaligus mengungkap besarnya tekanan psikologis yang dihadapi generasi muda di era modern.
Bedasar pengamatan, keluhan yang paling sering dialami oleh Gen Z adalah kecemasan berlebih (anxiety), depresi, stress akademik, hingga masalah percintaan dan keluarga.
Faktor lingkungan tersebut dapat mempengaruhi dan menjadi penyebab hal tersebut dapat terjadi. Tekanan untuk tampil sempurna, serta budaya perbandingan sosial dinilai berdampak besar pada kondisi psikologis mereka.
Banyak dari mereka yang merasa khawatir atas masa depan, kestabilan ekonomi, serta peluang kerja. Situasi global seperti pandemi yang lalu juga meningkatkan dampak psikologis jangka panjang, terutama bagi remaja dan dewasa muda.
Meskipun demikian, meningkatnya jumlah Gen Z yang datang ke psikolog tidak selalu berarti gangguan mental yang parah. Para ahli menilai hal ini sebagai tanda positif karena generasi ini lebih terbuka dan memilih untuk bercerita daripada memendam masalahnya sendiri.
Indah SJ, M.Psi., Psikolog menekankan pentingnya dukungan dari keluarga serta lingkungan sosial dalam menjaga kesehatan mental generasi muda ini. Akses layanan psikologis yang terjangkau dinilai sangat diperlukan.
Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami kondisi mental yang dialami Gen Z dan tidak memberikan stigma negatif.
Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kualitas hidup dan langkah mendatangi psikolog menjadi contoh bahwa mencari bantuan adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan.
NENSI
Editor : Imron Arlado