TAK bisa dipungkiri, keberadaan media sosial dan e-commerce saat ini memberi dampak positif untuk memasarkan produk. Meski begitu, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan bagi para perintis untuk memulai usaha.
Dosen sekaligus Kaprodi Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis dan Informatika Universitas Bina Sehat PPNI Mojokerto, Nanang Andhiyan M. menguraikan, merintis bisnis berbasis hobi menjadi nilai plus tersendiri dalam berwirausaha. Sebab, bisnis yang dijalani berdasarkan passion atau hal yang diminati ditambah komitmen dan keseriusan yang apik.
"Ketika hobi itu menjadi profit oriented, tentu akan berkembang menjadi bisnis yang seluruhnya ada angka dan perhituangannya," jelasnya.
Di samping itu, peluang pasar terkait produk bisnis yang dijalani dinilai penting untuk keberlangsungan usaha. "Perlu melihat tren dan minat pasar untuk memulai usaha. Era digital saat ini juga mempermudah pelaku usaha untuk melihat peluang pasar yang ada," imbuh Nanang.
Menurutnya, merintis bisnis di era digital saat ini dipermudah dengan keberadaan media sosial dan e-commerce. Tak lain, sebagai alat pemasaran yang kuat dan efektif.
Sesuai prinsip, lanjut dia, media sosial dan e-commerce jadi perantara pertemuan penjual dan pembeli. "Peluang untuk merintis bisnis ini bisa dimaksimalkan dari adanya media sosial dan e-commerce sebagai perantara dan pemasaran," tandas dosen asal Mojokerto ini.
Harus Diimbangi dengan Kepercayaan Konsumen
HAL senada diungkapkan Bendahara Umum BPC (Badan Pengurus Cabang) HIPMI Kabupaten Mojokerto M. Fuad Arisudin. Peran media sosial dan e-commerce dinilai cukup vital dalam percepatan transaksi bisnis antara penjual dan pembeli. Hanya saja, setiap produk barang maupun jasa mesti mampu mempengaruhi aspek kepuasan dan kepercayaan konsumen.
"Karena medsos dan e-commerce itu kan cepat, jadi seringkali lupa akan pentingnya kepercayaan konsumen," ungkap pengusaha konsultan sertifikat laik fungsi (SLF) ini. Lalu bagaimana membangun dan meningkatkan kepercayaan konsumen? Fuad menyebut, menjaga kualitas barang atau jasa jadi salah satu aspek penting.
Termasuk, dalam menentukan harga secara matang di tengah persaingan bisnis di era digital yang kian masif saat ini. "Seringkali perintis bisnis sekarang kurang memperhatikan harga pokok penjualan (HPP). Karena harga ini nanti mempengaruhi kualitas produk yang juga bisa menentukan kepercayaan konsumen," beber Fuad.
Menurutnya, hal ini tak lepas dari fenomena perang harga di pasaran. Dengan harga yang murah, lanjut dia, para pelaku usaha seringkali obral janji soal kualitas produk.
"Tapi nyatanya yang didapat konsumen tidak seperti yang dijanjikan, bahkan seringkali tidak dilakukan. Sampai-sampai, di tengah jalan putus kontrak atau wanprestasi," tuturnya.
Fuad mewanti-wanti agar para perintis bisnis tetap menjaga kredibilitas usahanya lewat kualitas produk dan membangun kepercayaan konsumen. (vad)
Editor : Imron Arlado