Dua hari sudah kita meninggalkan 2025. Artinya, dua hari ini pula melewati pintu gerbang 2026. Bersiap menapaki perjalanan panjang (long trip). Selama 365 hari ke depan. Di tahun kuda api alias fire horse. Dikenal memiliki energi kuat dan penuh dinamika. Konon, tahun kuda api hanya muncul setiap 60 tahun. Disebut bersifat panas, cepat, dan tak terduga. Lantas, story apalagi yang akan terjadi mendatang?
Kaleidoskop 2025
Kurun setahun kemarin, sarat potret peristiwa terjadi. Di Mojokerto Raya, misalnya. Masih ingat insiden tanah longsor di jalur Pacet-Cangar, April 2025 silam? Tragedi di kawasan Watu Lumpang, Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, itu menewaskan sepuluh orang. Mereka dari dua keluarga berbeda. Mengendarai mobil Toyota Innova Reborn dan Daihatsu Gran Max. Mungkin sampai sekarang ingatan itu masih menghantui. Trauma di tengah cuaca ekstrem.
Fenomena motor brebet, Oktober 2025, tak kalah santer. Rata-rata kendaraan mogok usai isi BBM jenis pertalite. Kabarnya meluas di berbagai daerah. Dugaannya, dipicu bahan bakar tercampur etanol. Bikin pusing. Capek menuntun. Kuras tangki sampai masuk bengkel. Keluarin duit lagi. Dongkol: kesal, sebal, dan marah. Menggerutu. Aktivitas terganggu. Mogok mendadak. Seperti sedang makan, lalu tersedak.
Baca Juga: PAD Sektor Pariwisata Diduga Bocor, Gus Bupati Mojokerto Merasa Diakali Pengelola Wisata
Dunia pendidikan tak kalah heboh. Alih-alih untuk meningkatkan gizi. Tapi, tak sedikit program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru memunculkan reaksi. Dari distribusi yang telat sampai makanan basi. Padahal, jadi harapan santapan siswa-siswi.
Ditambah lagi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mogok beroperasi di sana-sini. Hingga insiden mesin pengering ompreng atau streamer di Ngoro, Kabupaten Mojokerto, meledak turut mewarnai. Darr! Dua pekerja pun jadi korban dalam peristiwa pada Desember 2025 itu. Dilarikan ke rumah sakit akibat alami luka bakar di dapur tempat mereka mengais rezeki.
Sebelumnya, Alvi Maulana, asal Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara (Sumut), ikutan menyita perhatian pembaca. Pemuda 24 tahun ini tega menghabisi nyawa sang kekasih, akhir Agustus 2025. Jasad TAS, 25, gadis asal Lamongan, itu dimutilasi.
Jadi ratusan bagian. Serpihan tulang dibuang terpisah. Di antara semak-semak jurang Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Selebihnya, disimpan di rumah kos di kawasan Lidah Wetan, Surabaya. Pemicunya, tersulut luapan sakit hati dan emosi. Tak berperikemanusiaan. Tega. Sadis. Dan bikin miris. Hubungan asmara selama lima tahun berakhir di luar nalar.
Jelang penutup tahun 2025, ketok palu majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya jadi ”kado pahit” pusaran kasus korupsi di Kota Mojokerto.
Tujuh terdakwa perkara rasuah pembangunan kapal Taman Bahari Mojopahit (TBM) di Kecamatan Prajurit Kulon Rp 2,5 miliar divonis pidana berbeda. Dari 1,5 hingga 3,5 tahun kurungan.
Tapi, bagi jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto, putusan itu di luar ekspektasi. Pidana penjara, denda, dan uang pengembalian (UP) kerugian negara Rp 1,9 miliar tak sebanding dengan tuntutan mereka. Ending-nya, belum berstatus inkracht.
Jaksa putuskan banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya. Berharap, hukuman bagi tujuh terdakwa sesuai dengan praktik penyelewengan mereka. Lalu, seperti apa ujung ceritanya? Akankah berakhir seperti kisah Drama Korea: Stranger, Forest of Secrets (2017); Vincenzo (2021), atau Extraordinary Attorney Woo (2022)? Kita tunggu saja series berikutnya.
Makhluk Sosial
Deretan problematika di atas seharusnya menjadi alarm. Early warning system (EWS), kalau merujuk bahasa kebencanaan. Agar sirene atau notifikasi adanya ancaman bencana, kecurangan, atau penyalahgunaan dapat diantisipasi. Diawali dari evaluasi diri. Menata hati. Membenahi mental dan pikiran. Sekaligus meneguhkan peran sebagai makhluk sosial.
Dengan memperkuat hubungan antarsesama. Mewujudkan kehidupan harmonis. Mengedepankan toleransi. Saling menghormati. Berkomunikasi secara kodrati. Berempati dan simpati. Bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kepada keluarga, lingkungan, tempat kerja, sesama manusia, dan tentunya Tuhan.
Baca Juga: PAD Sektor Pariwisata Diduga Bocor, Gus Bupati Mojokerto Merasa Diakali Pengelola Wisata
Dengan demikian, kepekaan sosial akan terjaga. Merasa saling membutuhkan. Bukan lagi mengacuhkan. Apalagi, bersikap laiknya Tarzan. Tokoh fiksi ciptaan Edgar Rice Burroughs, anak bangsawan Inggris yang dibesarkan kera di hutan Afrika. Identik dengan kekuatan dan kehidupan liar. Sering disebut ”Raja Rimba”.
Tanpa norma dan etika. Jauh dari hidup berketuhanan. Hilang rasa memanusiakan manusia. Tiada keilmuan dan pengetahuan. Hingga abai aturan dan perundangan. Ujungnya, lupa kesadaran. Khilaf, jadi alasan. Padahal, lazimnya manusia, Tarzan memiliki nurani. Dianugerahi sifat mengasihi, menyayangi, dan melindugi. Tertanam rasa belas kasihan terhadap sesama.
Maka, jika sifat ini benar-benar terpatri, fenomena anarki dapat dihindari. Kejahatan korupsi tak terulang lagi. Bukan lagi sekadar mencari untung rugi. Apalagi, mudah mempolitisasi.
Mengomentari tanpa klarifikasi. Seperti hidup dalam ”Rimba Dunia Maya”. Sehingga bila memahami fondasi makhluk sosial seutuhnya, yang ada hanya humanity. Bangunan kebajikan dan kebijakan, akan berdiri kukuh. Jadi rumah meneduhkan. Mendamaikan. Menyatukan. Mengindahkan. Dan tidak merugikan.
Baca Juga: PAD Sektor Pariwisata Diduga Bocor, Gus Bupati Mojokerto Merasa Diakali Pengelola Wisata
Senyum dan Bahagia
Tidak ada yang tahu, seperti apa ke depan kelak. Yang lalu, biarlah berlalu. Berusaha menghindari salah arti. Dengan mempererat silaturahmi. Merapat untuk berdiskusi. Mempertajam aksi dan literasi. Jangan gengsi. Jika akhirnya cuma basi-basi. Meski lewat jagongan ngopi, tapi memiliki arti. Tahu diri. Tahu kapan bertindak. Tahu kapan bersikap. Tahu kapan melangkah. Dan tahun kapan berhenti menepi.
Gelorakan spirit selalu berbuat baik. Melawan sifat malas. Bangkitan kepercayaan diri. Melaju kencang. Kendati sabuk erat mengikat pinggang. Jalani yang ada di depan. Tak mudah ”terkalahkan” keadaan. Walau gelombang ekonomi menerjang. Terkadang sampai jungkir balik ibarat dandang.
Namun, harapannya, tak mudah patah arang. Seperti pepatah: berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian (jadul sih, tapi masih relate). Hadapi dengan senyuman (judul lagu, Dewa 19). Bangun optimisme.
Pertajam kreativitas dan tingkatkan kualitas. Perkuat sinergitas dan integritas. Adaptif, kreatif, dan kolaboratif. Percaya, harapan itu masih ada (ya, ada laah…). Sebab, roda lokomotif berputar mengikuti jalurnya.
Baca Juga: Tiga Pelaku Aborsi di Mojokerto Terancam Bui 10 Tahun, Begini Penjelasan Jaksa
Ibarat jalan panjang berkabut, ujungnya tetap terpaut. Seberat apa pun jika dilalui dengan konsisten dan komitmen, yakin bakal meraih hasil yang diimpikan. Apa pun itu. Di mana pun itu. Dan kapan pun itu. Optimistis akan merengkuh ”penghargaan” terbaik.
Setidaknya, sudah menapaki bukit. Ngos-ngosan, iya. Capek, pasti. Tapi, mengeluh bukan solusi. Karena di depan mata puncak tertinggi sudah menanti. Lupakan ilusi tak berarti. Terpenting, beranjak menuju titik garis finis. Syukur bisa cepat, agar tak terlambat. Tak terduga, namun pasti. Kemudian, tanpa bayangan, teriak lantang. Berhasil dari melewati beratnya medan tanjakan. Rasanya, happy. Tersenyum bahagia. Dan semoga, ini bukan sekadar ujar selembar yang terbaca. (*)
Oleh: Moch. Chariris
Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Mojokerto