Tidak cukup pintar saja. Tidak cukup punya uang saja. Termasuk, tidak cukup berangkat ke kantor pagi dan pulang sore. Padu padan keseimbangan harus tetap terjaga oleh seorang politikus perempuan, tegas Eka Septya.
Politisi PKB ini memaknai Hari Ibu sebagai pengingat sejarah. Hari Ibu sebagai momentum perjuangan perempuan Indonesia untuk merdeka dan berdaya. Termasuk, memperkuat semangat untuk terus berkontribusi di berbagai sektor. Merayakan kemampuan menyeimbangkan karier yang sukses dengan peran sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, bukan sebagai beban, melainkan sebagai wujud kekuatan dan multitasking perempuan modern, tegasnya.
Kendati begitu, Eka mengaku tetap menempatkan keluarga sebagai fondasi utama kehidupan. Di rumah, dirinya berusaha hadir secara utuh sebagai pendamping, pendidik bagi anak-anak, dan pendamping suami.
Sementara sebagai wakil rakyat, Eka membawa nilai-nilai keibuan tersebut, kepedulian, empati, dan tanggung jawab ke dalam setiap keputusan dan kebijakan yang diperjuangkan. Menjalankan kedua peran tentu memiliki tantangan, namun dengan manajemen waktu yang baik, dukungan keluarga, serta komitmen yang kuat, kedua peran tersebut justru saling menguatkan dan bukan menjadi beban, paparnya.
Eka menegaskan, tokoh sentral dalam keluarga adalah seorang ibu. Momentum Hari Ibu mengingatkannya akan peran luar biasa seorang ibu sebagai sumber cinta, kekuatan, dan keteladanan dalam keluarga maupun masyarakat. Hari Ibu bukan hanya tentang penghormatan, tetapi juga ajakan untuk terus menghargai, mendukung, dan memberdayakan perempuan agar dapat menjalankan perannya. Baik di ranah domestik maupun publik dengan martabat, kesempatan, dan keadilan yang setara, pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah