Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jarang Diketahui! Disorganized Attachment Jadi Gaya Keterikatan dalam Hubungan yang Paling Membingungkan dan Sulit Dikenali

Eki Septian Tri Wulansari • Jumat, 19 Desember 2025 | 00:12 WIB

 

Jarang Diketahui! Disorganized Attachment jadi Gaya Keterikatan dalam Hubungan yang Paling Membingungkan dan Sulit Dikenali (sumber : Freepik)
Jarang Diketahui! Disorganized Attachment jadi Gaya Keterikatan dalam Hubungan yang Paling Membingungkan dan Sulit Dikenali (sumber : Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Siapa yang tak mengenal teori keterikatan atau attachment theory? Belakangan ini, attachment theory menjadi salah satu topik psikologi yang banyak diperbincangkan.

Dua teori populernya ada avoidant (sikap menghindar) dan anxious (kecemasan) masih sering dibahas untuk mengkategorikan kepribadian individu.

Nah fakta penelitian ternyata menunjukkan bahwa attachment theory bukan hanya tentang anxious dan avoidant loh! Ada satu kategori lainnya yang tak boleh terlewat, yakni disorganized attachment yang lebih membingungkan untuk dihadapi. Lantas seperti apakah keterikatan disorganized itu? Simak lebih lanjut artikel berikut.

Gabungan Anxious dan Avoidant

Disorganized attachment secara definisi diartikan sebagai sikap ambivalen atau tidak terorganisir antara penghindaran dan kecemasan.

Seseorang bisa saja mengaktifkan mode anxious dan avoidant dalam dirinya sebagai metode dalam berinteraksi dengan orang lain.

Sikap yang tidak menentu ini menumbuhkan sikap ambang, terkadang bisa merasa cemas saat tidak dipedulikan, namun di lain waktu merasa butuh ruang sendiri dan tidak ingin terikat pada apapun.

Sikap Bertentangan dalam Disorganized Attachment

Adapun sikap yang kerap ditunjukkan oleh seorang dengan pola kelekatan disorganisasi adalah mereka seringkali menunjukkan sikap cemburu dan marah dengan diiringi ketakutan.

Misal, kecemburuan bisa menimbulkan rasa cemas dan marah, namun setelahnya seseorang menarik diri karena merasa takut keterikatannya menimbulkan ketergantungan terhadap si pasangan.

Pola kelekatan disorganisasi melibatkan sikap yang saling bertentangan karena adanya mode pertahanan diri, kewaspadaan, dan kurangnya kepercayaan terhadap orang lain.

Seringkali merasa tidak puas bisa menjadi tanda adanya sikap disorganisasi pada diri seseorang. Hal ini dikarenakan, seseorang merasa dukungan yang didapat selalu kurang atau tidak memadai.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kopi Keliling Terenak di Mojokerto, Ngopi Praktis Dimana Saja!

Konflik dan Ketegangan dalam Hubungan

Saat dewasa, seseorang dengan pola disorganized attachment kerap mengalami kesulitan dalam berinteraksi, terkhususnya saat memiliki pasangan.

Terbiasa dengan pola yang tidak stabil antara kecemasan dan penghindaran bisa menimbulkan konflik atau salah paham dengan pasangan atau teman.

Ketegangan dengan sikap yang membingungkan akan menimbulkan keraguan bagi lawan dalam menunjukkan kasih sayang, termasuk bagi seseorang yang memiliki pola keterikatan disorganisasi.

Menurut artikel Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics and Change, diketahui bahwa pada satu sisi, seseorang menginginkan kelekatan dan merasa cemas namun sulit percaya kepada pasangan. Kecemasan ini berakar pada rasa takut diabaikan dan ditinggalkan serta .

Disisi lain, disorganized attachment pada seseorang juga memiliki kemampuan menonaktifkan sisi keterikatan dan kecemasan kepada pasangan untuk menghindari ketergantungan dan memilih menghindar.

Tingkat agresif seorang yang tidak terorganisir juga tergolong lebih besar. Oleh karena itu, pola kelekatan tersebut bisa menimbulkan potensi kekerasan antar individu.

Sumber Disorganized Attachment

Adanya riwayat pola asuh semasa kecil yang tidak konsisten dan teratur menimbulkan dampak berkepanjangan dengan memicu pola keterikatan disorganisasi.

Figur pengasuhan yang tidak stabil seperti misal terkadang terlalu responsif atau dalam waktu lain tampak acuh bisa menjadi awal tumbuhnya pola disorganized attachment.

Pola asuh tidak stabil memicu kecemasan dan penghindaran sehingga mengakibatkan kebingungan berinteraksi.

Orang tua yang memiliki sifat kasar akan mendorong anak untuk menghindari kelekatan karena rasa takut dan sebaliknya, anak yang tumbuh dengan responsivitas berlebih akan merasa takut ditinggalkan saat mendapati respon sedikit berbeda.

Baca Juga: Tak Suka Drama, 5 Zodiak Ini Bakal Langsung Cut-Off Daripada Berdebat dan Membuang-buang Waktu! Siapa Saja?

Setelah dimengerti, disorganized attachment ternyata bersumber dari rasa takut. Ketakutan disini berperan penting untuk mengaktifkan salah satu mode (avoidant dan anxious) pada diri seseorang.

Adanya luka atau trauma juga memuat kesulitan interaksi karena menganggap orang lain berniat jahat dan berbahaya, sehingga ada kasus semacam ini, pola tidak terorganisir atau disorganized attachment terbentuk.

Solusi Mengatasi Disorganized Attachment

Hal yang bisa dilakukan ketika diri sendiri atau orang sekitar memiliki pola keterikatan disorganisasi adalah dengan mencari dukungan dan berupaya memahami kebutuhan diri terlebih dahulu.

Mencoba terbuka terhadap orang-orang terdekat serta menciptakan ruang aman dinilai penting untuk menumbuhkan secure atau rasa aman saat berhubungan atau berinteraksi.

Editor : Imron Arlado
#disorganized attachment #psikologi #pola asuh #Anxious #takut #Avoidant #ambivalen