Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Haus Validasi dan Takut Akan Kesendirian Bisa Jadi Sinyal Anxious Attachment? Simak Penyebab dan Solusi Dibaliknya

Eki Septian Tri Wulansari • Jumat, 19 Desember 2025 | 01:10 WIB
Haus Validasi dan Takut Akan Kesendirian Bisa Jadi Sinyal Anxious Attachment? Simak Penyebab dan Solusi Dibaliknya (sumber: Freepik)
Haus Validasi dan Takut Akan Kesendirian Bisa Jadi Sinyal Anxious Attachment? Simak Penyebab dan Solusi Dibaliknya (sumber: Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Di zaman ini, teori psikologi berkembang dan mulai menjadi concern yang layak untuk terus dikaji dan disebarluaskan, termasuk salah satunya soal teori kelekatan atau attachment.

Kelekatan atau attachment adalah sebuah ikatan emosional dalam diri seseorang dengan individu yang dianggap penting atau memiliki kedekatan khusus, misalnya keluarga atau pasangan.

Teori kelekatan atau attachment ini dimulai dari John Bowlby dengan pengembangan oleh Mary D. Ainsworth yang mengandung poin kuatnya keterikatan emosional seseorang yang terbentuk dari pola asuh semasa kecil dan berdampak pada dirinya di masa depan dalam menjalin interaksi dengan sekitar.

Attachment sendiri memiliki empat kategori yaitu secure (aman) disorganized (cemas/penghindaran), avoidant (menghindar), dan anxious (kecemasan).

Berbeda dari avoidant yang cenderung menghindari kelekatan, anxious justru merasa mudah cemas saat berjauhan dengan seseorang yang telah memiliki keterikatan emosional dengannya.

Kedekatan Anxious dengan Overthinking

Menerobos masuk lebih jauh mengenai anxious attachment, pola keterikatan ini adalah satu dari empat daftar attachment.

Anxious attachment adalah pola keterikatan yang berhubungan erat dengan kecemasan dan perasaan takut untuk ditinggalkan.

Dalam literatur jurnal Anxiety and Attachment Styles: A Systematic (Lingjie Guo and Jude Ash, 2020) juga menyebutkan bahwa pola keterikatan dalam sebuah hubungan juga berhubungan dengan kesehatan mental.

Pada kondisi anxious, anxiety atau kecemasan bisa dikaitkan juga dengan kebiasaan overthinking terhadap sebuah hal yang belum tentu terjadi.

Saat overthinking, seseorang akan membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi, membuat skenario buruk dalam pikiran, dan tentunya menyebabkan timbulnya perasaan cemas dan panik dalam hubungan, baik dengan lingkup keluarga atau pasangan.

Overthinking dalam kaitannya dengan anxious mendorong munculnya perasaan insecure atau rasa tidak aman saat tidak merasa dekat baik secara fisik maupun emosi dengan seseorang yang memiliki keterikatan dengannya.

Baca Juga: Bau Menyengat dan Timbulkan Banyak Lalat, Warga di Mojokerto Segel Kandang Ayam

Ciri Pelaku Anxious Attachment

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang haus akan validasi atau dalam hal ini diartikan seperti terus menerus meminta kepastian, salah satu contohnya adalah dengan pertanyaan semacam “Apakah kamu masih menyayangiku?” atau “Apakah kamu akan meninggalkan aku?”.

Tentunya pertanyaan tersebut tidak asing ditelinga kita. Saat berada dalam sebuah hubungan, cukup wajar menanyakan hal tersebut, namun bisa berubah jadi indikasi anxious saat seseorang selalu merasa harus terus di validasi akan hal tersebut.

Nah selain haus akan validasi untuk memastikan bahwa dirinya tidak ditinggalkan atau bisa disebut juga dengan hiperaktivitas (terus mencari tanda akan ditinggalkan oleh pasangan), seorang anxious begitu akrab dengan perasaan cemas dan insecure.

Rasa insecure yang dialami bisa membuat seseorang memiliki pandangan yang seringkali bersifat negatif dan memikirkan skenario terburuk untuk hubungannya.

Kekhawatiran akan ditinggalkan ini membuat seorang anxious akan sangat bergantung kepada pasangannya dan merasa khawatir ditinggalkan.

Parahnya, saat seorang anxious tidak mendapat kabar dari pasangan dalam waktu yang singkat, misalnya satu atau dua jam, mereka akan merasa tidak berharga dan begitu cemas.

Bisanya, seorang anxious juga dikenal memiliki perasaan yang lebih peka atau sensitif, maka tidak heran jika sedikit perubahan dari lawan akan terlihat dan mampu menimbulkan perasaan takut atau khawatir berlebih.

Seorang anxious juga memiliki ciri lain seperti ingin terus menerus menghabiskan waktu bersama pasangan karena ingin terus memastikan bahwa seseorang selalu ada dan tidak meninggalkannya.

Baca Juga: Tertarik Belajar Ilmu Filsafat? Berikut 4 Rekomendasi Buku yang Wajib Dibaca! Mulai Sejarah Hingga Prinsip Hidup Stoic

Penyebab Seseorang Mengalami Anxious 

1. Pola asuh

Pola keterikatan kecemasan atau anxious attachment biasanya disebabkan oleh pola asuh yang tidak konsisten sejak dini.

Respon lingkungan yang tidak stabil mampu membentuk seseorang menjadi insecure dan mudah cemas.

Kerap membutuhkan validasi dan perhatian adalah strategi pertahanan bagi seorang anxious, meski sifatnya hanya menimbulkan kelegaan sementara.

2. Faktor genetik

Adanya riwayat anxious atau kecemasan dalam lingkup keluarga mendorong timbulnya pola keterikatan kecemasan.

3. Tak ada dukungan

Anxious bisa menetap karena tidak adanya dukungan untuk menjadi aman (secure) dari sekitar.

Dalam beberapa kasus berhubungan, termasuk saat berpasangan, minimnya support bisa memicu konflik dan menambah tekanan.

4. Konflik

Hubungan yang didominasi oleh konflik dan ketidakkonsistenan perilaku dengan pasangan akan memicu munculnya rasa cemas akibat takut untuk ditinggalkan.

Biasanya, saat seseorang mengalami kekhawatiran ini, mereka akan melindungi diri dengan meminta validasi dan kepastian dari pasangan untuk tidak meninggalkannya.

Solusi Mengatasi Anxious Attachment

1. Memahami kebutuhan diri

Saat mengetahui bahwa memiliki pola keterikatan anxious, cobalah mengenal diri sendiri dan memahami dan memenuhi kebutuhan diri secara pribadi, termasuk mengenali trauma dari masa kecil.

Cobalah untuk mengenal potensi diri dan lebih terkoneksi dengan pikiran dan perasaan untuk menumbuhkan percaya diri dan rasa aman.

2. Belajar mengelola emosi

Cari waktu untuk me time dan belajar meregulasi emosi sebelum meledak-ledak. Biasanya, saat seseorang bisa lebih nyaman atas dirinya, maka emosi tidak akan mudah tersulut, termasuk saat tidak mendapat kabar dari pasangan atau seseorang yang memiliki keterikatan emosional.

Cara mengatur emosi disini bisa dengan menggunakan waktu untuk diri sendiri seperti mendengarkan musik, spa, memasak, berjalan jalan, atau berolahraga.

Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit di Mojokerto Makin Pedas

3. Berkomunikasi dengan pasangan

Komunikasi sangat penting agar Anda dan pasangan bisa lebih mengenal kebutuhan satu sama lain.

Beritahu pasangan tentang kebutuhan dalam hubungan dan hal-hal untuk membentuk perasaan aman dan nyaman tanpa merasa cemas.

Jika mendapati perilaku tidak konsisten atau konflik berkepanjangan, diskusikan bersama pasangan agar bisa mendapat solusi yang tidak memberatkan salah satu pihak dan Anda bisa tetap merasa aman.

4. Memelihara hubungan eksternal

Tetap terhubung dengan sekitar, jangan terpaku hanya pada pasangan. Menghabiskan waktu bersama sahabat dan keluarga tak kalah penting guna menambah dukungan dari sekitar untuk terbebas dari perasaan cemas dan panik.

5. Dukungan profesional

Jika merasa membutuhkan pertolongan, dukungan profesional seperti psikolog dan psikiater juga bisa menjadi opsi untuk mengatasi pola keterikatan kecemasan.

Itulah dia beberapa hal terkait anxious attachment atau pola keterikatan kecemasan. Pada dasarnya, pola keterikatan baik anxious melibatkan perasaan takut, cemas, dan khawatir terhadap penolakan atau ditinggalkan.

Meski begitu, seorang yang memiliki pola keterikatan anxious bisa diatasi dengan dukungan dari dalam maupun luar untuk merubahnya menjadi secure.

Editor : Imron Arlado
#haus validasi #kecemasan #pola asuh #overthinking #hiperaktivitas #hubungan #Insecure #anxious attachment