Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengenali Tradisi Passiliran, Warisan Budaya Toraja yang Sarat akan Makna Kehidupan

Imron Arlado • Sabtu, 13 Desember 2025 | 06:02 WIB
Toraja selalu menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki berbagai tradisi unik dan terasa tidak umum bagi masyarakat luar Toraja. Sumber foto: Google
Toraja selalu menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki berbagai tradisi unik dan terasa tidak umum bagi masyarakat luar Toraja. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Toraja selalu menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki berbagai tradisi unik dan terasa tidak umum bagi masyarakat luar Toraja, salah satunya adalah tradisi Passiliran.

Sebuah tradisi yang dikenal sebagai cara pemakaman untuk bayi yang belum tumbuh gigi, di mana tubuh bayi yang meninggal akan ditempatkan di dalam batang pohon Tarra.

Praktik tradisi ini sukses membuat banyak orang dari berbagai daerah merasa penasaran karena tradisi ini seakan menyatukan ritual kematian dengan unsur alam dan menghadirkan cara pandang yang berbeda tentang hubungan antar manusia serta kehidupan setelah mati.

Tradisi Passiliran ini lahir dari kepercayaan Aluk Todolo, yaitu sebuah kepercayaan leluhur masyarakat Toraja yang melihat kehidupan sebagai satu kesatuan antara alam dengan dunia roh.

Dalam pandangan tersebut, bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi dianggap sebagai jiwa yang masih suci dan belum terikat pengalaman dunia karena belum benar-benar memulai perjalanan hidupnya.

Sehingga cara pemakamannya pun dilakukan dengan cara dan konsep yang seakan menyatukan serta mengembalikan ke alam.

Sementara itu, pohon Tarra yang digunakan sebagai ruang penempatan tak dipilih secara sembarangan.

Pohon Tarra memiliki batang yang besar, keras, dan mengandung banyak getah berwarna putih yang mirip dengan warna susu, sehingga seringkali dianggap sebagai simbol kesuburan serta kedekatan dengan makna "air susu ibu".

Batangnya yang kokoh mampu menahan lubang pemakaman dan dapat tertutup kembali seiring berjalannya waktu, seolah pohon tersebut menyembuhkan dirinya sambil memeluk bayi yang dimakamkan.

 

Baca Juga: Kampung Seni Bejijong Trowulan Mojokerto: Cor Kuningan Jadi Produk Unggulan, Ramaikan Destinasi Wisata Berbasis Religi dan Sejarah

 

Dalam pandangan masyarakat Toraja, pohon Tarra bukan sekedar tumbuhan, tetapi juga dianggap sebagai suatu tempat yang memungkinkan bayi melanjutkan pertumbuhannya di dunia roh.

Prosesi awal pemakaman ini dilakukan dengan membungkus jenazah bayi secara sederhana sebelum ditempatkan ke dalam batang pohon yang telah dilubangi sesuai dengan ukuran jenazah bayi.

Setelah bayi ditempatkan dalam lubang, lubang akan ditutup menggunakan serat daun salem yang kuat dan tahan lama, memberi batas ilmiah antara tubuh bayi dengan dunia luar.

Posisi tubuh bayi di dalam batang pohon biasanya akan disesuaikan menghadap ke arah rumah orang tua yang menandakan ikatan keluarga tidak akan terputus sekaligus telah terpisah dunia.

Sementara posisi tinggi rendahnya lubang tiap bayi di batang pohon mengikuti derajat sosial keluarga, sehingga satu pohon Tarra bisa memiliki berbagai titik yang berbeda-beda.

Jika dilihat dalam makna simbolik dan filosofis, tradisi ini, terutama pohon Tarra digambarkan sebagai sebuah tempat yang memungkinkan bayi untuk terus bertumbuh bersama alam karena batang pohon Tarra akan terus hidup dan berkembang.

Selain itu, penempatan posisi bayi juga sarat akan makna simbolik dan filosofis karena seakan menggambarkan bahwa hubungan keluarga tetap terjaga dan membuat bayi seolah kembali pulang meski tak lagi hadir secara fisik.

Selain itu, penempatan jenazah bayi yang belum tumbuh gigi menunjukkan pandangan masyarakat Toraja tentang kesucian dan ketidakterikatan jiwa pada dunia.

Seluruh komponen tersebut mencerminkan bagaimana cara masyarakat Toraja memahami siklus kehidupan, di mana kematian bukanlah pemisah, melainkan perjalanan menuju dunia roh atau dunia kehidupan lainnya.

Namun, tradisi ini tak bisa luput dari perkembangan zaman yang akan selalu membawa perubahan dalam cara masyarakat memandang dan menjalankan berbagai tradisi, termasuk Passiliran.

Contohnya seperti pengaruh agama, perubahan nilai sosial, dan pertimbangan kesehatan.

 

Baca Juga: Rudapaksa Anak, Warga Mojokerto Divonis 8 Tahun Penjara dan Denda Hampir Satu Miliar, Begini Sidangnya!

 

Banyak keluarga yang kini lebih memilih pemakaman konvensional, sementara Passiliran lebih dikenal sebagai salah satu warisan budaya yang dikenang, bukan lagi yang dijalankan.

Walaupun begitu, masyarakat Toraja sejak dahulu hingga sekarang dan seterusnya akan selalu menjaga kisah dan pemahaman tentang Passiliran sebagai bagian dari identitas mereka.

Nilai-nilai tradisi Passiliran ini juga hingga sekarang tetap relevan sebagai pengingat tentang kedekatan manusia dengan alam dan cara sebuah masyarakat dalam menjaga makna dari kehidupan yang singkat sekalipun. FANEZA

Editor : Imron Arlado
#kepercayaan #toraja #warisan budaya #alam #pemakaman #manusia #ritual #kematian #tradisi #Adat #passiliran #aluk todolo