JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Berbagai bunga ucapan sudah layu. Toga sudah dilipat rapi dan hadiah sudah terususun rapi.
Bagi ribuan fresh graduate Gen Z, momen wisuda hanyalah penanda dimulainya babak baru yang jauh lebih sulit. Yakni perang mencari kerja. Ijazah yang dibanggakan selama empat tahun ternyata bukan kunci utama, melainkan sekadar selembar data pendukung wajib di gerbang persaingan.
Inilah pengakuan jujur dari Irsya Zakiyatul Fakhiroh, seorang fresh graduate sarjana pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 2025 yang kisahnya mewakili sebagian besar fresh graduate Gen Z.
Irsya menceritakan saat euforia gelar sarjana yang baru disandangnya lenyap begitu cepat dan berganti dengan gelombang keresahan tiada henti.
“Mungkin pada awalnya itu saya merasa bangga, ya, saya sudah wisuda. Tapi kemudian, muncul keresahan-keresahan,’’ ungkapnya, Senin (1/12).
Sebagai lulusan bergelar sarjana pendidikan, ia merasa jalan kariernya sangat terjal dan tidak pasti. Harapan besar yang ia tanamkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan lapangan, apalagi ditambah kekaburan kebijakan formal.
’’Belum lagi kebijakan atau timeline PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang masih belum jelas. Saya bingung, langkah selanjutnya itu seperti apa? Apakah saya langsung banting setir dari jurusan saya?” terangnya.
Kepalanya penuh dengan rencana, tapi ia tidak menemukan satu langkah yang tepat untuk memulai perjalanan kariernya. Teman sehari-harinya hanya berupa overthinking, perasaan cemas, kecewa, dan hilang arah. Ijazah yang telah didapat dan dipegang erat terasa seperti beban, bukan jaminan.
Lupakan email lamaran yang sopan dan Curriculum Vitae (CV) yang berdesain cantik. Menurut Irsya, ada satu jalur yang jauh lebih efektif menembus pintu kantor. Yakni kekuatan networking, atau akrab disebut ‘orang dalam’.
’’Menurut saya, peran networking dalam membuka pintu karier ini jauh lebih besar dari pada jalur aplikasi formal saja. Tetap saja di sini kita, sistem yang ada di Indonesia itu sudah sewajarnya main orang dalam,” kata Irsya blak-blakan.
Ia menjelaskan, informasi lowongan bagus seringkali hanya beredar di kalangan terbatas, bukan diiklankan secara massal. Kondisi seperti ini yang menuntut fresh graduate untuk lihai berstrategi demi kursi karier.
Meski menggunakan ‘jalur khusus’, ia menekankan pentingnya menjaga integritas. Memakai ‘orang dalam’ boleh, asalkan kemampuan diri sendiri juga memadai.
“Akan tetapi, bagaimana caranya kita masuk dalam sistem tapi kita tidak boleh kotor. Contoh, mungkin kita lewat orang dalam, tapi, ya kita sesuaikan dengan kompetensi dan juga kemampuan dari diri kita sendiri,” tegasnya.
Portofolio dan pengalaman kerja merupakan dua pilar utama yang banyak dicari perusahaan terhadap kandidat barunya. Ijazah S1 sudah tidak lagi menjadi nilai jual utama. Keterampilan seseorang menjadi nilai plus bagi perusahaan.
Bagi Irsya, nilai keterampilan yang paling utama yakni soft skill public speaking. Ini merupakan jembatan pertama saat interviu. “Nanti HR-nya bisa melihat dengan cara kita bicara, komunikasi kita baik atau tidak, serta terstruktur, sistematis, atau tidak.” Selain itu, kemampuan problem solving dan critical thinking juga harus dikuasai.
Selain soft skill, lapangan kerja banyak membutuhkna hard skill dengan keahlian di bidang data analyst, coding, atau UX/UI, meskipun tidak relevan dengan gelar yang disandang saat ini. Namun dasar hard skill dapat diasah jika ada kemauan dan dorongan dari diri sendiri.
Merangkum semua drama pasca-wisuda, Irsya menyampaikan satu pesan penting kepada dirinya sendiri. Pesan yang berisikan strategi paling ampuh untuk bertahan dan terus berproses tanpa henti.
“Jangan terpaku pada standar atau ekspektasi orang lain. Tetaplah sesuai dengan diri kita sendiri, dan yang paling penting, yaitu bergerak terus meskipun pelan. Intinya, kita harus setiap hari ada perkembangan, berproses. Jadi, engga stuck di dalam satu tempat saja, tetapi kita terus bergerak, meskipun pergerakan itu lambat atau pelan.”
Pesan Irsya adalah pengingat bagi semua fresh graduate untuk terus berproses dan pantang menyerah pada ekspektasi. Bergerak, walau lambat, adalah satu-satunya cara untuk keluar dari zona krisis eksistensi pasca-kampus. (Hasina Aldhea/ANGELINA)
Editor : Imron Arlado