Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Hadiah Juara 1 Karate Rp 2 Juta, Dipangkas Panitia dan Hanya Terima Rp 300 Ribu Saja

Imron Arlado • Senin, 1 Desember 2025 | 00:10 WIB
Hadiah lomba Rp2 juta, yang diterima hanya Rp300 ribu.
Hadiah lomba Rp2 juta, yang diterima hanya Rp300 ribu.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Seorang ibu rumah tangga di Kupang, Nusa Tenggara Timur, menarik perhatian publik setelah ia mengunggahm video isi curahan hatinya.

Dalam videonya, ia menyatakan rasa kecewa yang amat mendalam dikarenakan putranya yang pada saat itu telah berhasil meraih juara pertama lomba karate dalam Pameran Pembangunan NTT BaGaYa pada Agustus 2025, hanya mendapatkan Rp300 ribu dari hadiah simbolis yang nilai sebenarnya adalah Rp2 juta.

Video ini menjadi viral di media sosial pada akhir November 2025, mengundang banyak perdebatan mengenai transparansi dalam alokasi dana hadiah olahraga.

 

 

Anak ibuu tersebut naik ke panggung untuk menerima trofi dengan nominal Rp2 juta di hadapan umum. Namun, setelah menunggu hingga tiga bulan lamanya, anak ibu tersebut sakhirnya pulang dari latihan dan membawa amplop hadiah yang hanya berisi Rp300 ribu.

"Saya sangat kecewa sebagai orang tua, ini yang membuat bangsa kita tidak berkembang," ucapnya sembari mengungkapkan kecurigaannya terhadap kemungkinan adanya ketidaktransparanan dana yang telah disebutkan pada saat anaknya menang perlombaan.

Insiden ini bermula dari perlombaan karate yang diadakan oleh Pemprov NTT sebagai bagian dari acara Pameran Pembangunan, penyerahan hadiah dengan nominal Rp2 juta tersebut dilakukan secara simbolis di atas panggung pada malam penutupan, tetapi pencairan dana itu dilakukan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga  NTT menuju Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) NTT.

 

 

Ibu tersebut mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan informasi yang lengkap dan jelas mengenai proses distribusi, sehingga ia merasa curiga terjadi potongan dari hadiah tersebut.

Menanggapi isu yang viral ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika NTT dan juga Ketua Panitia, Frederik C.P. Koenunu, menyatakan sebuah klarifikasi bahwa semua hadiah telah dibayarkan secara penuh dan juga sesuai dengan ketentuan yang ada.

Ia mengadakan sebuah pertemuan langsung dengan orang tua atlet, pelatih, dan anak untuk menjelaskan mekanismenya, berujung video yang viral tersebut dihapus setelah pertemuan dilakukan.

 

 

Sekdispora NTT, Karel Muskanan, menambahkan bahwa terjadinya perbedaan jumlah hadiah tersebut muncul akibat praktik internal Forki yang menekankan pada nilai kebersamaan dan solidaritas, para atlet sepakat untuk membagi hadiah guna membiayai latihan, operasional dojo, serta dukungan antar peserta.

"Ini adalah proses pembinaan karakter dalam olahraga, tetapi informasi ini tidak sampai kepada orang tua, sehingga muncul kesalahpahaman," ujarnya.

Pemprov NTT mengucapkan terima kasih atas kritik dari masyarakat, dan memastikan bahwa kasus ini telah diselesaikan dengan jalur yang damai.

 

 

Kejadian ini mengungkapkan adanya kekurangan dalam komunikasi antara panitia, organisasi induk, dan keluarga atlet akan dapat mengakibatkan kesalahan fatal. Banyak warganet yang mendukung pentingnya transparansi dalam pemberian hadiah olahraga di daerah, agar prestasi tidak jadi pudar karena masalah administratif. Dzafir Kirana Adelia

Editor : Imron Arlado
#pemprov #pemangkasan #atlet #diskominfo #dispora #kupang #pelatih #kecewa #ntt #lomba #karate #hadiah #forki