JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Banjir besar dan longsor yang melanda Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, sejak 25 November 2025 telah menyebabkan kerusakan parah dan banyak korban jiwa.
Akses jalan-jalan terputus dan komunikasi terganggu, sehingga mempersulit proses evakuasi dan penyaluran bantuan ke daerah yang terkena dampak.
Kondisi darurat kebutuhan pangan terjadi karena kelangkaan dan keterlambatan dalam menyalurkan logistik. Warga yang kesulitan memperoleh kebutuhan pokok terpaksa mengambil makanan dari gudang dan minimarket yang masih memiliki stok makanan.
Salah satu tempat yang menjadi target adalah Gudang Bulog Sarudik di Sibolga, di mana warga, termasuk anak-anak, mengambil beras dan minyak goreng secara bersamaan. Video viral menunjukkan warga beramai-ramai memikul karung beras hasil penjarahan.
Kepala Wilayah Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, mengonfirmasi insiden tersebut.
Ia menjelaskan bahwa banjir dan longsor menyebabkan jaringan distribusi logistik terhenti selama tiga hari. Kondisi ini memicu darurat pangan dan desakan warga untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.
"Kami memahami bahwa masyarakat sedang berada dalam situasi darurat akibat bencana banjir yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan terputusnya akses pangan," ujar Budi.
Aparat keamanan sudah berupaya mengamankan gudang, namun fokus utama mereka saat itu adalah menangani korban dan penanggulangan pascabencana, sehingga pengamanan terbatas.
"Saat itu, personel dari Polsek dan Koramil setempat telah ditempatkan di area kompleks Gudang Sarudik. Namun fokus aparat saat itu lebih diprioritaskan pada penanganan korban dan penanggulangan pascabencana," ujarnya
Penjarahan juga terjadi di beberapa mini market di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Warga yang kelaparan dan panik memperoleh bantuan yang tertunda, sehingga memilih mengambil langsung makanan dari toko dan gudang. Kejadian ini mendapat perhatian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa tindakan warga mengambil bahan makanan bukan termasuk penjarahan dalam arti menghancurkan atau merusak barang.
"Jadi kami sudah cek ke personel kami yang bisa masuk ke sana, itu mereka mengambil bahan makanan. Jadi bukan menjarah atau merusak, memecahkan kaca, dan sebagainya tidak," kata Suharyanto di Sumut, Minggu (30/11/2025)
Ia menegaskan bahwa warga hanya mengambil kebutuhan pangan karena keterbatasan dan ketakutan akibat suplai bantuan yang tidak memadai.
"Dia menjarah bahan makanan, ya mungkin mereka khawatir, takut, karena tertutup dan bahan makanan terbatas sehingga itu yang dilakukan dan itu yang sebagian viral di medsos," tambah dia
BNPB bersama TNI-Polri sedang fokus membuka akses jalan yang terputus di Sibolga dan Tapanuli Tengah. Bantuan juga telah dikirim melalui udara untuk mengatasi isolasi wilayah terdampak.
Suharyanto mengatakan akses dari Tapanuli ke Sibolga masih terhalang karena longsoran tanah yang sangat parah.
Satuan tugas gabungan TNI-Polri diperkirakan memerlukan waktu tiga hari untuk membuka akses tersebut secara penuh. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan besar dalam penyaluran logistik yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Warga dan korban bencana berharap bantuan datang secara penuh dan merata agar tidak ada lagi warga yang kesulitan memperoleh pangan dan kebutuhan pokok.
(Rizma)
Editor : Imron Arlado