Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Penjarahan Bukan Solusi, Terisolasi Pangan di Sibolga-Tapteng Tak Bisa Jadi Alasan Membenarkan Serbu BULOG & Indomaret, Alfamart

Imron Arlado • Senin, 1 Desember 2025 | 00:19 WIB

 

Kondisi terisolasi setelah banjir menyebabkan masalah dalam pengiriman barang di Sibolga-Tapteng, sehingga terjadi pergerakan banyak orang, tetapi tindakan pencurian tidak dapat dibenarkan.
Kondisi terisolasi setelah banjir menyebabkan masalah dalam pengiriman barang di Sibolga-Tapteng, sehingga terjadi pergerakan banyak orang, tetapi tindakan pencurian tidak dapat dibenarkan.

Jawa Pos Radar Mojokerto - Langit Sibolga pada sore hari itu tampak kelam seperti pertanda buruk. Hujan yang datang bukan sekadar gerimis, melainkan hujan lebat yang menghantam tanah tanpa henti. Dalam waktu singkat, sungai meluap tak terkendali, tanah tak mampu lagi menahan akar tanaman, dan dua malapetaka banjir besar dan tanah longsor bergabung menjadi gelombang yang menghancurkan Sibolga dan Tapanuli Tengah. Jalan-jalan runtuh, jembatan tersapu, komunikasi terputus, dan daerah tersebut tiba-tiba terkurung oleh bencana alamnya sendiri. Sibolga berubah menjadi pulau daratan, sementara desa-desa di Tapanuli Tengah terisolasi seperti titik-titik pada peta yang tak lagi terhubung satu sama lain.

Bencana alam sering kali diartikan sebagai kerusakan fisik yang nampak. Namun di sini, yang lebih menakutkan bukan sekedar air yang melonjak atau bukit yang runtuh, melainkan perut yang semakin kosong. Setiap hari berlalu, persediaan makanan di rumah-rumah penduduk habis bersamaan dengan harapan awal bahwa bantuan akan segera datang melalui jalur darat.

Ketika pasokan terhenti, kepanikan sosial mulai merayap perlahan. Dalam keadaan genting ini, masyarakat menyerbu dua simbol ketahanan pangan dan ritel yang tersisa: tempat penyimpanan beras milik BULOG di Sarudik, dan beberapa minimarket jaringan Indomaret yang masih dapat bertahan, meskipun tanpa penerangan.

Rekaman video yang dibuat oleh warga dan tersebar di WhatsApp serta TikTok menjadi bukti situasi yang terjadi. Pintu gudang dijebol secara bersama-sama, karung-karung beras diangkat, etalase ritel dibobol, mi instan dan minyak goreng diambil oleh tangan yang tidak lagi memperhatikan norma. Bukan karena keserakahan, menurut beberapa penduduk, tetapi karena kelaparan yang menghantui keluarga mereka. Meski demikian, kondisi darurat sebesar apapun tidak bisa menjadikan penjarahan sebagai sesuatu yang diizinkan.

Pihak BNPB menginformasikan bahwa operasi distribusi bantuan sedang diupayakan lewat jalur udara dan laut. Dari basis di Medan hingga pelabuhan di kawasan Sumut, relawan dan aparat mulai beraksi. TNI melalui Komando Teritorial lokal memberikan pengamanan, sementara personel Polri berjaga di beberapa titik untuk mencegah terjadinya kekacauan. Namun ketika keamanan diperkuat, massa sudah terlebih dahulu menguasai gudang. Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit akan lambatnya waktu di tengah perubahan yang cepat.

Secara administratif, persediaan beras dan minyak di gudang BULOG sebenarnya disiapkan untuk disalurkan sebagai bantuan resmi sesuai permintaan dari pemerintah daerah. Namun prosedur ini belum selesai saat bencana terjadi dan jalur darat sepenuhnya terputus. Ini adalah paradoks: meskipun gudang penuh, hal itu tidak menjamin kelangsungan pangan jika akses dan koordinasi tidak berjalan baik. Namun, memahami alasan di balik peristiwa bukan berarti membenarkan tindakan tersebut.

Krisis yang melanda Sibolga dan Tapteng adalah kisah mengenai alam yang liar, manusia dalam ketakutan, dan sistem yang diuji hingga batasnya. Penanganan bencana harus dilakukan dengan rasa empati, distribusi perlu diperbaiki dengan segera, tetapi satu hal harus tetap kuat: tindakan merampas bukanlah respons yang dapat diterima dalam situasi bencana, tidak peduli seberapa parah keadaan.

Karena ketika kita mulai "membiasakan" tindakan penjarahan sebagai reaksi dalam situasi darurat, yang roboh bukan hanya bukit di Tapanuli Tengah atau jalan-jalan di Sibolga,tetapi juga tatanan moral dan kepercayaan sosial itu sendiri. Okta

Editor : Imron Arlado
#sosial #penjarahan #banjir #makanan #sibolga #bantuan #moral #tapteng