JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam dunia kesehatan reproduksi, terdapat berbagai istilah medis yang menggambarkan kondisi kehamilan secara spesifik, salah satunya adalah stillborn baby.
Istilah stillborn baby sendiri menggambarkan kondisi ketika seorang bayi meninggal dalam kandungan setelah kehamilan mencapai usia atau tahap matang lebih matang.
Pada beberapa kasus, kondisi ini umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu atau bahkan meninggal pada saat proses persalinan.
Kondisi stillborn baby ini berbeda dengan kondisi keguguran awal karena pada stillborn baby janin sudah berada pada fase perkembangan yang lebih jauh.
Sehingga kejadiannya memberikan dampak emosional yang sangat besar bagi orang tua yang mengalaminya.
Dalam dunia medis, kondisi stillborn baby termasuk dalam bagian kejadian tingkat serius dan membutuhkan perhatian khusus terhadap kondisi ibu pada saat selesai persalinan.
Kejadian stillborn biasanya dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu penyebab yang paling umum terjadi adalah masalah pada plasenta karena plasenta berfungsi sebagai penghubung utama antara ibu dan janin.
Baca Juga: Genangan Enggan Surut, Bangunan Alami Kerusakan
Kondisi kesehatan sang ibu seperti tekanan darah yang tinggi, diabetes yang tidak stabil, dan adanya infeksi tertentu juga tergolong dalam faktor pemicu terjadinya stillborn baby.
Selain itu, adanya kelainan genetik atau terjadinya gangguan pada perkembangan janin juga dapat memengaruhi peluang janin untuk bertahan hidup dalam kandungan.
Ada pula faktor tak terduga namun memiliki pengaruh yang sangat besar, yakni gangguan pada tali pusar, seperti bayi terjepit atau terlilit tali pusar.
Gejala atau tanda-tanda terjadinya stillborn baby yang bisa dirasakan adalah perubahan pada aktivitas janin. Tanda-tanda tersebut seringkali menjadi pertanda awal terjadinya kejadian stillborn baby.
Gerakan janin yang tak seaktif biasanya, mulai berkurang, atau bahkan tak terasa sama sekali bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tak berjalan normal.
Selain itu, beberapa ibu juga biasanya merasakan perubahan pada kondisi tubuh, seperti tubuh terasa tidak nyaman dan munculnya intuisi bahwa ada sesuatu yang berbeda.
Meski tidak semua tanda-tanda atau gejala tersebut berarti terjadi sesuatu yang serius, tanda-tanda itu kerap kali menjadi alasan bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan.
Fenomena stillborn baby sangat rentan terjadi pada ibu yang menginjak usia tua, memiliki riwayat kehamilan yang bermasalah, kebiasaan mengonsumsi rokok atau minuman keras, dan keadaan medis tertentu.
Selain itu, faktor lingkungan juga bisa memicu terjadinya kejadian ini, salah satu contoh yang paling umum terjadi adalah adanya paparan zat kimia tertentu.
Proses diagnosis fenomena stillborn baby ini pasti dan harus dipastikan oleh tenaga medis melalui pemeriksaan detak jantung janin menggunakan alat USG atau ultrasonografi.
Ketika hasil USG menunjukkan tidak adanya detak jantung, dokter biasanya akan memastikannya dengan pemeriksaan tambahan untuk menghindari adanya kesalahpahaman.
Dalam berbagai kasus, stillborn baby tetap dilahirkan melalui proses persalinan normal karena metode ini dinilai paling aman bagi kondisi ibu yang mengalami kondisi stillborn baby.
Proses persalinan pada kondisi ini bisa berlangsung lebih lama atau lebih cepat dari persalinan pada umumnya, tergantung pada kondisi fisik sang ibu dan respon tubuh terhadap persalinan.
Baca Juga: Terdakwa Divonis Selama 7 Tahun Penjara
Sementara itu, upaya pencegahan dan perawatan kehamilan dapat dilakukan dengan cara rutin memeriksa kondisi kehamilan karena dapat memantau perkembangan janin dengan baik.
Pemantauan gerakan janin, menjaga pola makan sehat, menghindari paparan asap rokok, serta menjaga kesehatan tubuh juga dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan dan perawatan kehamilan.
Meskipun upaya ini memang tak bisa selalu menjamin seorang ibu hamil dapat terhindar dari stillborn baby, tetapi setidaknya dapat mengurangi potensi resiko dengan memperhatikan kondisi sejak dini.
Namun sayangnya, pemahaman mengenai stillborn baby masih seringkali jarang diangkat secara terbuka, sehingga muncul banyak kesalahpahaman tentang fenomena ini.
Padahal, edukasi yang tepat dapat membantu masyarakat untuk memahami bahwa stillborn adalah kondisi serius yang tidak selalu bisa dicegah, bukan merupakan kesalahan sang ibu, dan bisa membantu orang untuk menghadapi situasi ini dengan lebih kuat
Maka dari itu, pengetahuan atau pemahaman tentang kondisi ini juga mampu membuka jalan bagi pencegahan dan perhatian yang lebih baik di kehamilan berikutnya.
FANEZA
Editor : Imron Arlado