JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Saat ini, piercing atau tindik menjadi salah satu tren yang semakin berkembang di kalangan anak muda karena dianggap mampu mencerminkan karakter dan kepribadian.
Kehadiran tren ini memberikan sentuhan atau tampilan visual yang unik dan membuat penampilan tampak lebih berani sekaligus memberi ruang bagi siapapun untuk tampil berbeda.
Sementara itu, berkembangnya media sosial juga sangat berpengaruh pada tren piercing karena membantu menyebarkan tren atau gaya ini secara luas.
Sehingga piercing terlihat semakin normal dan diterima dalam berbagai lingkungan anak muda.
Popularitas tren ini tumbuh dari pengaruh selebritas, influencer, dan gaya fashion modern yang cenderung menonjolkan kesan edgy dan personal.
Konten visual tentang OOTD (Outfit Of The Day) atau inspirasi piercing membuat banyak anak muda tergoda untuk mencobanya karena dinilai sangat menarik, unik, dan menantang, sangat cocok dengan kepribadian anak muda zaman sekarang.
Lingkungan pertemanan atau komunitas juga turut memberi pengaruh dalam konteks ini karena ikut mendorong keberanian untuk bereksperimen, meski tidak dibersamai dengan pemahaman tentang resiko penggunaannya.
Di balik popularitas yang dipicu oleh kesan unik, menarik, dan menonjol dari tren ini, terdapat beberapa resiko penggunaan yang seringkali tidak disadari oleh para penggunanya.
Baca Juga: Penanganan Dipadukan Intervensi Teknis dan Alami
Resiko penggunaan piercing, seperti infeksi, biasanya dipicu oleh kebersihan yang seringkali diabaikan.
Setiap proses tindik pasti akan membuka kulit dan menciptakan luka yang sangat rentan terpapar bakteri.
Resiko berupa infeksi bisa muncul kapanpun ketika alat yang digunakan dalam proses penindikan tidak steril, prosesnya tidak dilakukan oleh tenaga yang kompeten, atau perawatannya yang tidak dilakukan dengan benar.
Gejala infeksi biasanya dapat berupa kemerahan, bengkak, rasa panas dan nyeri, hingga keluarnya cairan bernanah.
Area-area yang sangat mudah terpapar infeksi penggunaan piercing biasanya adalah area hidung, pusar, dan bibir karena tingkat kelembapannya lebih tinggi sekaligus dekat dengan sumber bakteri alami.
Selain karena kebersihannya yang tidak terjaga, resiko penggunaan piercing juga bisa muncul karena reaksi alergi terhadap bahan logam.
Sebagian orang yang memiliki alergi atau lebih sensitif terhadap bahan logam seperti nikel, biasanya tubuhnya akan merespon dengan rasa gatal, kemerahan, atau ruam yang muncul di area pemasangan piercing.
Namun, reaksi alergi ini tak selalu muncul langsung pada hari pertama pemasangan, bahkan kadang muncul setelah beberapa hari atau minggu ketika kulit terus bersentuhan dengan bahan logam yang tidak cocok.
Kemudian, dari reaksi alergi tersebut dapat meninggalkan bekas luka yang menetap, mulai dari garis luka yang tipis hingga keloid yang menonjol.
Keloid terbentuk ketika proses penyembuhan menghasilkan jaringan yang berlebih, dan kondisi ini kerap kali terjadi pada seseorang yang memiliki predisposisi bawaan.
Tak berhenti di situ, resiko penggunaan piercing atau tindikan juga dapat menimbulkan kerusakan saraf dan pendarahan.
Baca Juga: Kondisi Tanah Masih Labil, Pembukaan Jalur Pacet-Cangar Tunggu Hasil Asesmen
Resiko ini sangat mudah memengaruhi beberapa bagian tubuh yang menyimpan saraf halus dan pembuluh darah kecil.
Tindikan yang dilakukan pada posisi yang salah dapat menimbulkan pendarahan berlebihan atau rasa baal karena saraf mengalami trauma.
Bahkan dalam beberapa kasus, rasa baal ini dapat bertahan cukup lama dan mengganggu kenyamanan aktivitas sehari-hari.
Pemasangan piercing di lidah, bibir, atau pipi biasanya akan menghadirkan resiko tambahan lainnya seperti infeksi mulut, gangguan bicara, dan iritasi pada jaringan lunak.
Bahan logam yang terus bergesekan dengan gigi berpotensi merusak enamel, menyebabkan retakan kecil, hingga mempercepat menipisnya lapisan pelindung gigi.
Selain itu, resiko yang paling sering terjadi adalah terlepasnya aksesoris dan tertelan tanpa disadari.
Selain itu, tubuh sebagian orang terkadang tidak bisa menerima keberadaan benda asing dan tanpa sadar terus mendorong piercing keluar.
Sehingga proses ini dapat menimbulkan rasa nyeri, iritasi jangka panjang, dan meninggalkan bekas luka yang sulit hilang.
Setelah dilepas, piercing akan meninggalkan bekas luka berupa lubang yang tidak selalu bisa kembali menutup dengan sempurna.
Beberapa bekas bahkan bisa melebar, menurun bentuknya, dan meninggalkan bekas warna yang lebih gelap dari warna kulit asli di sekitarnya.
Perubahan ini juga dapat mengganggu estetika penampilan dan kerap kali membuat pemiliknya menyesal setelah tren pemasangan piercing mulai memudar atau sepi tak seramai sebelumnya.
Baca Juga: Dana Transfer Dipangkas, APBD 2026 Kota Anjlok
Meski begitu, piercing tetap dianggap sebagai salah satu hal yang menarik dan memiliki nilai estetika bagi banyak orang.
Tetapi keberadaannya tetap tidak terlepas dari resiko kesehatan dan dampak jangka panjang pada kulit maupun penampilan pengguna.
Pemahaman yang lebih seimbang antara tren penampilan menarik dan resiko di baliknya dapat membantu mempertimbangkan keputusan dengan lebih matang sebelum mengikuti tren.
FANEZA
Editor : Imron Arlado