Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Mendikdasmen Soroti Metode Mengajar Guru dan Buku Ajar yang Digunakan

Imron Arlado • Rabu, 26 November 2025 | 01:13 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Nilai matematika siswa SMA dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 mengalami penurunan yang sangat signifikan, sehingga menjadi topik diskusi nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa penurunan nilai ini tidak disebabkan oleh kemampuan siswa yang rendah, melainkan karena beberapa masalah dalam cara mengajar, buku ajar, dan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Hasil TKA 2025 menunjukkan penurunan terutama pada bagian numerasi. Menurut Mu’ti, matematika menjadi ujian yang paling membuat khawatir.

Dalam sebuah forum pendidikan di Jakarta, ia secara tegas menyampaikan bahwa skor matematika siswa “jeblok-blob-blob”, yang menunjukkan bahwa sistem pembelajaran matematika di sekolah perlu diperbaiki.

"Saya bocorkan di sini walaupun belum taklimat, TKA 2025 yang kita selenggarakan itu matematika juga jeblok-blok-blok-blok," kata Mu'ti, menekankan penurunan skor yang signifikan.

Ia menegaskan bahwa murid tidak seharusnya menjadi pihak yang dipersalahkan, karena penurunan ini justru menunjukkan bahwa desain pembelajaran, metode guru, dan kualitas materi ajar perlu dievaluasi secara mendalam.

“Bukan karena muridnya goblok, bukan. Tapi mungkin cara kita mengajarkannya dan bukunya tidak mendorong mereka untuk belajar (Matematika),” tutur Mu’ti

 

 

Mu’ti juga menyoroti bahwa minat dan kepercayaan diri siswa terhadap matematika tidak terbentuk sejak dini. Budaya yang menganggap matematika sebagai sesuatu yang sulit sudah terlanjur tertanam sejak TK hingga SMA.

Hal ini membuat siswa belajar matematika hanya untuk mencari nilai, bukan memahami konsep secara dalam. Selain itu, ia mengkritik beberapa buku ajar yang masih terlalu teoritis dan kurang terkait dengan kehidupan nyata.

Pandangan serupa diungkapkan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani. Ia mengatakan bahwa penurunan nilai matematika tidak boleh hanya dipandang sebagai kesalahan siswa atau karena soal yang terlalu sulit.

Menurutnya, cara mengajar guru perlu diperbaiki agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran modern. Transformasi ini mencakup metode yang lebih interaktif, penggunaan teknologi, serta pendekatan yang fokus pada pemahaman, bukan hanya hafalan.

Ia menegaskan bahwa hasil belajar harus tetap baik, tetapi cara mengajarnya perlu ditingkatkan. Sebagai upaya perbaikan, pemerintah meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional untuk memperkuat kemampuan berhitung dan pemecahan masalah sejak usia dini.

Tujuannya adalah agar belajar matematika tidak lagi dianggap menakutkan. Mu’ti menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) akan dikembangkan dengan prinsip “Mudah, Murah, Menarik” atau 3M.

Tujuan utamanya adalah membuat siswa lebih dekat dengan dunia angka melalui situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

 

 

Pendekatan STEM 3M diharapkan mendorong guru lebih kreatif dalam menyampaikan materi. Kegiatan seperti eksperimen sederhana, analisis data, atau permainan berbasis angka dianggap efektif dalam meningkatkan minat siswa terhadap matematika.

Selain itu, pemerintah juga mendorong sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berbasis proyek.

Namun, masih ada tantangan besar. Pemerataan kualitas pembelajaran antarwilayah, terutama di daerah 3T, menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan intervensi jangka panjang. Guru juga perlu mendapatkan pelatihan berkelanjutan agar mampu menerapkan metode mengajar baru.

(Rizma)

Editor : Imron Arlado
#Nilai #buku ajar #TKA 2025 #tka #matematika #Mendikdasmen Abdul Mu ti #transformasi