JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kebumen, sebuah kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah, ternyata menyimpan ragam kuliner tradisional yang unik dan jarang dikenal luas.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Kethek Basin, makanan fermentasi tradisional yang namanya saja sudah mampu membuat orang bertanya-tanya.
Meski namanya terdengar ekstrim, kuliner ini sebenarnya menyimpan sejarah panjang, cita rasa khas, dan nilai budaya yang sangat berharga.
Nama Kethek Bacin memang memancing rasa penasaran. Dalam bahasa Jawa, “kethek” berarti monyet, sedangkan “bacin” berarti bau menyengat atau beraroma kuat.
Namun makanan ini tidak ada hubungannya dengan monyet, melainkan penamaan yang muncul dari aroma khas hasil fermentasi bahan utamanya.
Meski begitu, masyarakat tetap melestarikan nama ini sebagai bagian dari ciri khas kuliner Kebumen yang penuh keunikan.
Salah satu bagian yang menarik dari Kethek Bacin yaitu bahan dasarnya yang sangat sederhana adalah ampas kelapa, sisa perasan santan yang biasanya dibuang.
Masyarakat Kebumen mengubah limbah dapur ini menjadi makanan bercita rasa gurih, asam, dan aromatik.
Baca Juga: Home Industry Sepatu di Dusun Karangsari, Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko Terbakar
Ampas kelapa kemudian dicampur dengan bumbu khas seperti:
- Bawang merah
- Bawang putih
- Cabai rawit
- Kencur
- Garam dan gula secukupnya
Perpaduan bahan ini menyatu selama proses fermentasi yang membuat rasanya semakin kuat dan khas.
Kethek Bacin tidak hanya dicampur dan dimasak, makanan tersebut melewati proses fermentasi alami yang berlangsung beberapa hari.
Proses inilah yang menghasilkan aroma "bacin" yang menjad8 ciri khasnya. Setelah dimasak, adonan biasanya dibungkus menggunakan daun pisang lalu dikukus hingga matang.
Proses fermentasi membuat tekstur Kethek Bacin menjadi lebih kenyal dan rasanya semakin gurih dengan sentuhan asam yang menjadi daya tarik utama kuliner ini.
Bagi yang baru pertama mencoba, Kethek Bacin mungkin terasa unik, bahkan mengejutkan. Namun pecinta makanan tradisional justru menyukainya karena:
- Gurih dan kaya bumbu
- Ada sensasi asam hasil fermentasi
- Tekstur kenyal dan lembut
- Aroma khas yang menggugah selera bagi penggemarnya
Kethek Bacin biasanya disantap bersama nasi hangat sebagai lauk pendamping, tetapi ada juga yang menikmati bersama getuk singkong, menciptakan perpaduan rasa manis, gurih yang khas Kebumen.
Saat ini, Kethek Bacin termasuk kuliner yang semakin jarang ditemukan. Generasi pembuatnya sudah tidak banyak, sementara minat masyarakat terhadap makanan tradisional juga mulai berkurang.
Baca Juga: Truk Boks Muatan 5 Ton Ayam Beku Terguling
Padahal, kuliner ini tidak hanya lezat, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan sederhana menjadi makanan bernilai tinggi.
Melestarikan Kethek Bacin berarti menjaga bagian dari identitas budaya Kebumen, warisan kuliner yang menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah makanan.
NIYA
Editor : Imron Arlado